Media Kampung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, bahkan mencapai level terendah sepanjang sejarah pada Rp17.529 per dolar AS. Kondisi ini memberikan tekanan besar terutama pada sektor manufaktur yang mulai melambat dan berdampak pada biaya produksi yang meningkat.

Pelemahan rupiah tersebut tercermin dari data pasar spot yang menunjukkan penurunan nilai sebesar 0,66 persen, sementara indeks dolar AS menguat. Penurunan ini memicu kenaikan biaya impor bahan baku, mesin, dan energi yang umumnya menggunakan denominasi dolar AS. Akibatnya, margin keuntungan industri manufaktur nasional semakin menipis, terlebih bagi sektor yang sangat bergantung pada bahan baku impor seperti farmasi, kimia, elektronik, otomotif, tekstil, serta makanan dan minuman berbahan baku impor.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa pelemahan rupiah yang menembus angka Rp17.500 per dolar AS jelas memberikan tekanan pada industri manufaktur. Ia menjelaskan bahwa kenaikan biaya produksi ini dapat membuat pelaku usaha kesulitan mempertahankan margin jika tidak diimbangi dengan penyesuaian harga jual. Namun, kenaikan harga juga berisiko menurunkan permintaan di pasar domestik.

Selain menekan biaya produksi, kondisi ini juga memengaruhi daya saing industri nasional. Sementara pelemahan rupiah biasanya diharapkan meningkatkan daya saing produk ekspor, manfaatnya terbatas bagi industri yang mengandalkan bahan baku impor dalam jumlah besar. Tekanan nilai tukar juga berpotensi membuat pelaku usaha menunda investasi dan ekspansi karena harus menghitung ulang biaya impor dan risiko ketidakpastian permintaan.

Di tengah pelemahan rupiah, sejumlah alternatif investasi mulai menarik perhatian investor. Melansir laman resmi DBS Indonesia, tabungan dalam mata uang dolar AS menjadi pilihan menarik. Investor dapat memanfaatkan momen ketika rupiah menguat dengan membeli dolar AS, lalu menjualnya saat rupiah melemah, sehingga berpotensi mendapatkan keuntungan dari selisih nilai tukar tersebut.

Sejarah menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah pernah mengalami tekanan berat, seperti pada masa krisis ekonomi 1998 saat mencapai Rp17.000 per dolar AS. Namun, pemerintah saat itu di bawah Presiden BJ Habibie berhasil menguatkan rupiah hingga Rp6.500 per dolar AS melalui kebijakan restrukturisasi perbankan dan penggabungan beberapa bank menjadi institusi yang lebih kuat, seperti pembentukan Bank Mandiri. Pendekatan ini menggambarkan pentingnya stabilitas nilai tukar sebagai fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Selain faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik dan kebijakan suku bunga tinggi dari Amerika Serikat yang mendorong dolar menguat, kondisi domestik juga menjadi faktor utama yang mempengaruhi volatilitas rupiah. Ketergantungan pada impor bahan baku dan energi, defisit fiskal yang melebar, serta daya saing ekspor yang masih terkunci pada komoditas primer membuat rupiah rentan terhadap guncangan global.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid dengan angka 5,61 persen pada kuartal I 2026. Namun, volatilitas nilai tukar rupiah memaksa dunia usaha untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi dan ekspansi. Para pelaku industri dan investor kini menunggu kondisi yang lebih stabil sebelum mengambil langkah strategis selanjutnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.