Media Kampung – 07 April 2026 | Harga bahan bakar avtur mengalami kenaikan tajam hingga 72 persen dibandingkan tahun lalu, menimbulkan kekhawatiran di kalangan maskapai penerbangan domestik.

Kenaikan tersebut dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia serta penyesuaian tarif transportasi laut yang mempengaruhi rantai pasokan avtur.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Bahlil Ibrahim menanggapi melalui konferensi pers, menyatakan pemerintah memantau situasi secara intensif.

Ia menekankan bahwa kebijakan penyesuaian harga avtur tetap berlandaskan pada mekanisme pasar dan tidak mengabaikan kepentingan industri penerbangan nasional.

Pemerintah berupaya menstabilkan pasokan dengan memperluas jaringan pelabuhan yang dapat menerima impor avtur secara langsung.

Langkah tersebut diharapkan mengurangi ketergantungan pada jalur distribusi tradisional yang selama ini menjadi faktor utama kenaikan biaya.

Bahlil juga mengingatkan bahwa kenaikan harga avtur berdampak pada tarif tiket pesawat, sehingga konsumen akhir dapat merasakan beban tambahan.

Ia menegaskan bahwa regulator penerbangan akan bekerja sama dengan maskapai untuk menilai kebutuhan penyesuaian tarif guna menjaga kestabilan pasar.

Selain faktor impor, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut memperbesar biaya pembelian avtur oleh maskapai.

Pemerintah tengah meninjau kebijakan nilai tukar dan instrumen lindung nilai untuk meminimalkan volatilitas harga bahan bakar.

Data Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi avtur nasional mencapai lebih dari 2,5 juta ton per tahun.

Dengan volume konsumsi tersebut, setiap kenaikan persentase harga memberi dampak signifikan terhadap total biaya operasional maskapai.

Para analis industri memperkirakan bahwa kenaikan 72 persen dapat meningkatkan biaya operasional maskapai hingga 5-7 persen secara keseluruhan.

Akibatnya, beberapa maskapai telah merencanakan penyesuaian jadwal penerbangan atau peninjauan kembali rute yang kurang menguntungkan.

Menteri Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menutup mata terhadap potensi penurunan layanan akibat tekanan biaya.

Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk produsen avtur, operator bandara, dan lembaga keuangan, untuk berkoordinasi dalam mencari solusi jangka panjang.

Pemerintah juga membuka ruang bagi investasi swasta dalam pembangunan infrastruktur penyimpanan avtur di pelabuhan-pelabuhan strategis.

Investasi tersebut diharapkan menambah kapasitas penyimpanan dan mengurangi biaya logistik yang selama ini menjadi beban tambahan.

Jika berhasil, estimasi penurunan biaya logistik dapat menurunkan harga avtur di pasar domestik sebesar 10-15 persen dalam jangka menengah.

Para pengamat mencatat bahwa kebijakan diversifikasi pemasok avtur, termasuk menjajaki alternatif bahan bakar berkelanjutan, menjadi agenda penting ke depan.

Bahlil menutup pernyataannya dengan menekankan komitmen pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri penerbangan dan perlindungan konsumen.

Ia menambahkan bahwa langkah-langkah konkret akan terus dipantau dan dievaluasi secara berkala untuk memastikan stabilitas pasar avtur.

Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya sinergi antara kebijakan ekonomi makro dan sektor transportasi udara dalam menghadapi dinamika harga energi global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.