Media Kampung – 06 April 2026 | Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan bahwa Indonesia masih mengimpor beras menir meski stok beras melimpah.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Kementerian Pertanian pada Senin (5 April 2024).
Stok tersebut dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan beras mentah dan olahan domestik selama dua tahun ke depan.
Namun, impor menir tetap berlangsung dengan volume sekitar 1,2 juta ton pada kuartal pertama tahun ini.
Amran menegaskan bahwa ketergantungan pada menir impor dapat menurunkan nilai tambah sektor pertanian nasional.
Ia menambahkan pemerintah akan mempercepat hilirisasi beras menjadi menir di pabrik-pabrik dalam negeri.
Program hilirisasi mencakup peningkatan kapasitas penggilingan modern serta insentif bagi investor.
Kementerian Pertanian menargetkan penambahan kapasitas pengolahan menir sebesar 2 juta ton per tahun hingga 2026.
Target tersebut diharapkan dapat menutup selisih antara produksi beras domestik dan kebutuhan menir nasional.
Menir merupakan beras yang telah dipoles kulitnya, siap pakai bagi konsumen perkotaan.
Permintaan menir terus meningkat seiring pertumbuhan kelas menengah dan perubahan pola konsumsi.
Data Asosiasi Pengusaha Beras Indonesia mencatat kenaikan penjualan menir sebesar 8 persen tahun lalu.
Karena itu, pemerintah menilai penting untuk mengalihkan surplus beras gabah menjadi produk menir.
Amran menuturkan, “Kami tidak ingin terus mengandalkan impor ketika bahan baku beras melimpah di dalam negeri.”
Ia menekankan bahwa kebijakan ini sejalan dengan program Swasembada Pangan 2025.
Swasembada Pangan menargetkan kemandirian produksi beras serta nilai tambah melalui proses hilirisasi.
Menteri menambahkan, “Kita akan memberikan kemudahan perizinan dan dukungan pembiayaan bagi pelaku industri penggilingan.”
Pemerintah juga berencana meninjau kembali tarif impor menir untuk menurunkan insentif impor.
Saat ini, tarif bea masuk menir berada pada 5 persen, lebih rendah dibandingkan tarif beras mentah.
Penyesuaian tarif diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk menir domestik di pasar lokal.
Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Kementerian Keuangan untuk menyusun paket kebijakan fiskal terkait.
Selain insentif fiskal, program pelatihan tenaga kerja teknis di pabrik penggilingan juga akan digencarkan.
Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) akan menyediakan teknologi penggilingan yang lebih efisien.
Teknologi tersebut diharapkan dapat menurunkan biaya produksi menir hingga 10 persen.
Pengurangan biaya produksi diharapkan menurunkan harga jual menir bagi konsumen akhir.
Analis pasar pangan memperkirakan harga menir domestik dapat stabil pada kisaran Rp7.000 – Rp8.000 per kilogram dalam enam bulan ke depan.
Stabilitas harga diyakini akan meningkatkan daya beli masyarakat dan mengurangi tekanan impor.
Sementara itu, petani beras tetap menjadi pihak utama dalam menyediakan bahan baku bagi industri hilirisasi.
Kementerian berjanji akan memperkuat mekanisme penyaluran gabah ke pabrik penggilingan melalui kontrak jangka panjang.
Kebijakan tersebut juga mencakup jaminan harga gabah minimum untuk melindungi pendapatan petani.
Dengan langkah ini, diharapkan petani tidak akan menahan stok gabah untuk menunggu harga impor menir naik.
Secara keseluruhan, strategi hilirisasi menir diharapkan meningkatkan nilai tambah pertanian sebesar 1,5 persen pada 2025.
Pemerintah menutup pernyataan dengan menegaskan komitmen untuk mengurangi ketergantungan impor beras olahan.
Upaya tersebut sejalan dengan agenda ketahanan pangan nasional yang menjadi prioritas utama.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






