Media Kampung, Pesisir Selatan — Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) memberikan pengakuan internasional kepada Nagari Ampiang Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, atas komitmennya dalam membangun kesiapsiagaan terhadap tsunami. Nagari ini menjadi satu dari dua wilayah di Sumatra Barat yang memperoleh pengakuan tersebut.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pesisir Selatan, Armen, mengatakan penghargaan itu merupakan hasil pengembangan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami serta program Tsunami Ready Community. Sebelumnya, Nagari Ampiang Parak telah menerima penghargaan tingkat nasional dari BMKG pada Agustus 2025.
“Untuk Sumatra Barat hanya dua yang menerima pengakuan ini, yaitu Tua Pejat di Kepulauan Mentawai dan Nagari Ampiang Parak di Kabupaten Pesisir Selatan. Secara nasional hanya ada tujuh desa yang mendapatkannya,” kata Armen kepada RRI, Jumat (17/7/2026).
Menurut Armen, keberhasilan Ampiang Parak tidak lepas dari peran aktif Kelompok Siaga Bencana (KSB) yang selama bertahun-tahun membangun ketangguhan masyarakat melalui edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi, hingga rehabilitasi kawasan pesisir.
Ia menjelaskan, kawasan pantai yang sebelumnya gersang kini berubah menjadi sabuk hijau setelah masyarakat menanam ribuan pohon bakau, pinus, dan mahoni selama sekitar 15 tahun terakhir. Vegetasi itu berfungsi menahan energi gelombang tsunami sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan.
“Kalau terjadi tsunami, hutan bakau ini menjadi pelindung sebelum gelombang mencapai permukiman. Sekarang kawasan itu juga menjadi sangat indah dan berkembang sebagai destinasi wisata,” ujar Armen.
Selain menjadi benteng alami, kawasan pesisir Ampiang Parak kini dimanfaatkan sebagai lokasi ekowisata dan konservasi penyu. Pemerintah nagari juga mengalokasikan dana setiap tahun untuk mendukung kegiatan Kelompok Siaga Bencana, termasuk penanaman dan perawatan mangrove.
Armen menilai Ampiang Parak layak menjadi contoh pengelolaan kawasan pesisir berbasis mitigasi bencana. Menurutnya, keberhasilan tersebut harus terus dikembangkan agar memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Pengakuan disampaikan dalam webinar peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran, Kamis (16/7/2026). Piagam UNESCO akan diserahkan secara langsung pada 30 September 2026 di Kota Pariaman.























Tinggalkan Balasan