Media Kampung, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 3.055 gempa susulan terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah gempa utama berkekuatan 7,7 magnitudo. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memperkirakan proses peluruhan gempa susulan ini akan berlangsung selama tiga hingga empat pekan ke depan dengan intensitas gempa yang terus mengecil.
BMKG melaporkan gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2 dan terkecil 1,1, dengan 88 di antaranya dirasakan oleh masyarakat. Faisal menegaskan tidak akan terjadi gempa susulan dengan kekuatan lebih besar dari gempa utama sehingga potensi tsunami besar dalam waktu dekat dapat dikesampingkan.
Proses Peluruhan Gempa Susulan
Gempa susulan merupakan bagian alami dari proses peluruhan energi setelah gempa utama terjadi. Mengingat gempa utama yang cukup besar, waktu peluruhan yang dibutuhkan bisa mencapai beberapa minggu. Faisal menyampaikan pentingnya masyarakat tidak hanya fokus pada jumlah gempa susulan, tetapi juga menjaga ketenangan dan rasa aman, terutama bagi mereka yang masih mengungsi.
Kewaspadaan Terhadap Gempa Besar dan Tsunami
Salah satu kekhawatiran masyarakat adalah kemungkinan terjadinya gempa besar dalam waktu dekat. Namun, BMKG memastikan bahwa sesar di wilayah Flores membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mengumpulkan energi guna menghasilkan gempa besar berikutnya. Oleh sebab itu, masyarakat diminta tetap tenang sambil BMKG terus memantau aktivitas gempa di wilayah tersebut.
Selain itu, BMKG menegaskan kesiapan sistem peringatan dini tsunami dengan waktu respons kurang dari tiga menit sesuai protokol internasional. Sistem ini akan menginformasikan masyarakat secara cepat untuk melakukan evakuasi jika terjadi ancaman tsunami.
Upaya Kesiapan dan Evakuasi
BMKG bersama instansi seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, TNI, Polri, dan Forkopimda terus mendampingi masyarakat di lokasi terdampak untuk memberikan rasa aman dan kenyamanan. Penguatan prosedur operasi standar (SOP) evakuasi serta penempatan rambu-rambu evakuasi menjadi fokus agar masyarakat dapat segera merespons ancaman bencana dengan tepat.
Monitoring dan Infrastruktur BMKG
BMKG memiliki jaringan pemantauan gempa yang tersebar di Pulau Flores meliputi empat Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Labuan Bajo, Ruteng, Maumere, dan Larantuka serta dua pos di Ende dan Bajawa. Selain itu, dua pusat peringatan dini Multi Hazard Early Warning System (MHEWS) berlokasi di Kemayoran dan Denpasar, yang dibangun dengan teknologi seismic base isolation untuk ketahanan terhadap gempa.
Faisal memastikan bahwa semua data dan kondisi gempa susulan terus dipantau secara intensif untuk memastikan keselamatan masyarakat di NTT dan wilayah Indonesia lainnya.
Pola Gempa Susulan dan Kepastian BMKG
Secara umum, gempa susulan setelah gempa utama cenderung mengalami penurunan kekuatan dan frekuensi seiring waktu. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menegaskan bahwa tidak ada indikasi gempa susulan yang lebih besar dari gempa utama 7,7 magnitudo. Oleh karena itu, potensi tsunami akibat gempa susulan dalam waktu dekat juga tidak perlu dikhawatirkan.
Aktivitas gempa susulan yang terjadi saat ini merupakan bagian dari proses menuju kestabilan lempeng bumi di wilayah tersebut. BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk waspada namun tidak panik dan mengikuti arahan evakuasi bila diperlukan.













Tinggalkan Balasan