Media Kampung – Puyuh Gonggong Biasa (Arborophilia orientalis) merupakan burung endemik yang hanya dapat ditemukan di tiga kawasan di Jawa Timur, yaitu Dataran Tinggi Hyang Argopuro, Pegunungan Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri. Keunikan burung ini terletak pada suaranya yang melengking dan menyerupai gonggongan anjing, sehingga para pakar burung menjulukinya sebagai puyuh gonggong.
Peneliti dari Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember, Arif Mohammad Siddiq, telah melakukan penelitian selama tiga tahun terakhir di Pegunungan Ijen dan Taman Nasional Meru Betiri. Ia menggunakan kamera jebak untuk mengamati perilaku burung ini di alam liar.
Menurut Arif, puyuh gonggong biasa hidup berkelompok dengan jumlah 5 hingga 15 ekor di ketinggian 500 hingga 2.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), namun umumnya ditemukan di atas 1.000 mdpl. Burung ini aktif mencari makan pada pagi dan sore hari di lantai hutan dengan tutupan kanopi yang rapat.
Penelitian yang dilakukan pada tahun 2021 mencatat setidaknya 57 spesies burung di kawasan Pegunungan Ijen, dengan 10 di antaranya termasuk burung yang dilindungi, seperti burung madu gunung, elang hitam, julang emas, cekakak Jawa, dan puyuh gonggong biasa. Keberagaman ini dinilai berpotensi untuk dikembangkan menjadi wisata minat khusus pengamatan burung (bird watching).
Sayangnya, meskipun statusnya rentan terhadap kepunahan (vulnerable), puyuh gonggong biasa belum masuk dalam daftar satwa yang dilindungi. Ancaman utama berasal dari alih fungsi lahan dan perburuan liar. Arif mendorong pemerintah untuk segera menetapkan burung ini sebagai satwa yang dilindungi, dan mengajak masyarakat untuk turut serta menjaga kelestarian alam.
Arif berharap penelitian lebih lanjut dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang puyuh gonggong biasa, sehingga burung endemik ini dapat menjadi fauna khas dan kebanggaan warga Jember serta sekitarnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.




Tinggalkan Balasan