Media Kampung – Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Eko Yulianto, mengungkap jejak tsunami purba di sepanjang pesisir selatan Jawa hingga Bali. Penelitian paleotsunami ini menemukan indikasi kuat bahwa tsunami besar pernah terjadi sekitar 400 tahun lalu. Jejak tersebut diperoleh melalui kombinasi bukti geologi, mikrofosil laut, arkeologi, dan kajian terhadap narasi budaya masyarakat pesisir.
Eko menjelaskan bahwa tidak ada dokumen sejarah yang menjelaskan kapan ruptur raksasa terakhir terjadi. Jika gempa megathrust terjadi sebelum periode sejarah tertulis, memorinya mungkin sudah hilang dari catatan sejarah. Hingga 2026, tim peneliti telah melakukan investigasi di dua belas lokasi utama dari Jawa Barat hingga Bali.
Empat lokasi representatif yang disorot adalah Cibuaya (Banten), Pangandaran (Jawa Barat), Kulon Progo (DIY), dan Tabanan (Bali). Di Pangandaran, ditemukan lapisan pasir tsunami yang memisahkan endapan lumpur mangrove dengan sedimen lebih muda. Analisis radiokarbon menunjukkan umur sekitar 400 tahun. Temuan lain di Pangandaran berasal dari lingkungan rawa pesisir yang menunjukkan lapisan sedimen berulang, diduga akibat beberapa gelombang tsunami dalam satu kejadian besar.
Di Situs Batu Kalde, Pangandaran, selain lapisan budaya berisi fragmen gerabah Hindu-Buddha dan cangkang moluska, ditemukan struktur batu yang roboh. Meski belum pasti sebagai dampak tsunami, kondisi ini membuka kemungkinan adanya guncangan gempa atau genangan besar masa lalu. Di Kulon Progo, tim menemukan lapisan pasir mengandung mikrofosil laut dalam seperti foraminifera, radiolaria, dan ostrakoda, yang menjadi bukti kuat material terbawa genangan laut besar.
Di Cibuaya, Banten, ditemukan lapisan pasir kaya mikrofosil laut di bawah lapisan batang pohon terkubur yang mati sekitar 300-400 tahun lalu. Hal ini mengindikasikan peristiwa genangan laut besar terjadi lebih dulu, diikuti perubahan lingkungan. Di Tabanan, Bali, ditemukan susunan bongkah batu dan fragmen genteng yang mengarah ke daratan, menunjukkan aliran air kuat dari laut. Berdasarkan lapisan abu vulkanik letusan Gunung Tambora 1815, usia tsunami diperkirakan juga sekitar 400 tahun lalu.
Kompilasi data radiokarbon menunjukkan pola pengelompokan umur endapan tsunami pada beberapa periode: klaster termuda sekitar 400 tahun lalu, lalu periode 800-1000 Masehi, 100-300 Masehi, dan 400-700 Sebelum Masehi. Pola ini menjadi hipotesis kerja mengenai pengulangan tsunami besar di margin selatan Jawa, namun data tambahan masih diperlukan untuk memastikan kaitannya dengan megathrust regional atau kombinasi tsunami lokal dan regional.
Salah satu temuan menarik muncul di luar ranah geologi. Setelah indikasi tsunami besar 400 tahun lalu, peneliti mengkaji narasi tradisional pesisir selatan Jawa, termasuk tradisi Ratu Kidul dan naskah Serat Sri Nata. Ketika deskripsi dalam naskah dibandingkan dengan kesaksian korban tsunami modern, ditemukan kemiripan seperti perilaku laut tidak biasa, suara keras, angin kencang, suasana gelap, kepanikan massal, kerusakan luas, dan banyak korban jiwa. Eko menekankan bahwa hal ini bukan bukti pasti, namun membuka kemungkinan narasi tradisional menyimpan fragmen memori lingkungan yang bertahan lama setelah peristiwa fisik hilang dari sejarah tertulis.
Penelitian multidisiplin ini menunjukkan rekonstruksi sejarah bencana masa depan dapat dilakukan melalui berbagai sumber pengetahuan. Penelitian didorong oleh kebutuhan memahami ancaman megathrust di zona subduksi selatan Jawa dan kebutuhan praktis mitigasi bencana, mengingat potensi ancaman gempa bumi dan tsunami di sepanjang pesisir selatan Jawa.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan