Media Kampung – Pameran lukisan bertajuk Mata Hati Soekarno di Le Gareca Space, Jogjakarta, pada Sabtu, 6 Mei 2026, menjadi momentum penting dalam ekosistem seni rupa Indonesia. Acara yang dibuka oleh Megawati Soekarnoputri dan dihadiri GKR Hemas ini berhasil mempertemukan para seniman Jogja dengan kolektor, sehingga banyak karya laku terjual. Butet Kertarajasa, seniman sekaligus pengusaha, menjadi aktor utama di balik kesuksesan tersebut.
Megawati, putri Presiden Soekarno, hadir sebagai pembuka pameran. Dalam sambutannya, ia menceritakan masa kecilnya yang lahir di Istana Gedung Agung Yogyakarta. Ia juga menekankan pentingnya pendidikan seni dalam pembentukan karakter. “Sejak usia 5 tahun, saya sudah diminta ayah saya belajar tari. Ini yang membuat tulang saya tetap kuat hingga sekarang,” ujarnya.
Kehadiran GKR Hemas, istri Sri Sultan HB X, menambah bobot acara. Ketika Ratu Hemas tiba, Butet yang duduk di samping Megawati segera bergeser ke belakang, duduk di antara dua tokoh perempuan tersebut. Cak Lontong dan Akbar Kobar, sebagai pembawa acara, menyebut mereka sebagai MBG: Megawati, Butet, Gusti Ratu Hemas.
Pameran ini melibatkan sekitar 50 seniman dari berbagai generasi di Jogja. Mereka menampilkan Bung Karno dalam beragam perspektif: sebagai proklamator, pemimpin revolusi, dan pecinta seni. Kurator pameran, Suwarno, menilai kualitas artistik karya-karya tersebut sangat baik, meskipun Megawati sempat berkomentar bahwa beberapa lukisan masih perlu memperkuat “ruh”-nya.
Butet Kertarajasa tidak hanya sekadar menyelenggarakan pameran. Ia membangun ekosistem seni yang berkelanjutan dengan menghubungkan seniman dengan offtaker atau pembeli karya. Jaringan sosialnya yang luas, mulai dari politisi hingga kolektor, dimanfaatkan untuk menciptakan rantai nilai kesenian. Hasilnya, para pelukis tidak hanya menikmati apresiasi, tetapi juga transaksi nyata.
Model yang diperlihatkan Butet ini menjadi contoh bagaimana seni membutuhkan panggung sekaligus pasar. Dengan menghadirkan tokoh nasional sebagai magnet, ia berhasil mempertemukan kreator dengan konsumen. Para seniman yang tadinya khawatir karyanya hanya menumpuk di studio kini bisa tersenyum lebar karena lukisan mereka laku keras.
Pameran Mata Hati Soekarno menjadi bukti bahwa kreativitas membutuhkan ekosistem, dan ekosistem membutuhkan penghubung. Butet Kertarajasa telah menjadi penghubung itu, dan hasilnya terlihat dari senyum para pelukis serta catatan transaksi yang terus bertambah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan