Media Kampung – Ketika lapangan tennis menjadi karpet merah, seorang jurnalis fashion asal Inggris, Sunita Kumar Nair, meluncurkan buku terbarunya berjudul Ace: The Style of Tennis. Buku ini hadir tepat saat publik mulai memberikan perhatian besar pada hubungan antara fashion dan tenis, menawarkan perspektif unik seorang jurnalis fashion yang belum pernah ada sebelumnya.
Setelah sukses dengan buku CBK: Carolyn Bessette Kennedy – A Life in Fashion, Kumar Nair kembali menelusuri jejak pengaruh tenis dalam dunia mode. Dalam wawancara dengan Media Kampung, ia mengungkapkan bahwa ide buku ini muncul saat ia menyadari belum ada buku independen yang mengangkat tema tersebut. “Yang paling menarik adalah kesamaan perjalanan antara tenis dan fashion sepanjang sejarah,” ujarnya.
Buku ini dibagi menjadi tiga bagian: The Classics, The Mavericks, dan The Cools, yang mengelompokkan pemain tenis legendaris perempuan dari berbagai era, mulai dari Suzanne Lenglen hingga Billie Jean King dan Serena Williams. Kumar Nair menyoroti bagaimana desainer Prancis Jean Patou bekerja sama dengan Suzanne Lenglen pada awal abad ke-20 untuk menciptakan busana tenis yang lebih praktis, yang kemudian menjadi fondasi inspirasi haute couture Patou.
Penulis juga mengeksplorasi kolaborasi antara Maria Sharapova dengan Nike dan Riccardo Tisci dalam mengadaptasi little black dress (LBD) ikonis Audrey Hepburn menggunakan material Dri-Fit. Selain itu, ia menganalisis hubungan erat antara merek sportswear seperti Nike, New Balance, dan Gucci dengan para atlet, yang tidak hanya menjadi duta merek tetapi juga membentuk citra mereka.
Naomi Osaka, dalam wawancara untuk buku ini, menyatakan, “Lapangan tenis bagi saya adalah sebuah panggung, dan kami adalah para penghibur. Saya menikmati kebebasan untuk mengekspresikan kreativitas dan diri saya melalui gaya rambut, busana, hingga aksesori.” Pernyataan ini menegaskan bahwa busana di lapangan bukanlah hal sepele, melainkan bagian dari pertunjukan.
Kumar Nair juga membahas perubahan busana tenis dari masa ke masa. “Mengetahui bahwa pada awal abad ke-20 perempuan bermain tenis dengan rok panjang dan korset sangat mengejutkan. Di Wimbledon Lawn Tennis Museum, ada korset-korset lama yang masih menyisakan noda darah,” ungkapnya. Hal ini mencerminkan perjuangan perempuan untuk mendapatkan kebebasan bergerak, yang masih berlangsung hingga kini.
Menurut Kumar Nair, fashion lebih dulu memengaruhi tenis. Sosok seperti Suzanne Lenglen tidak akan bisa menembus batas tanpa dukungan Jean Patou. “Fashion membantu para atlet mengekspresikan diri pada saat itu, dan peran itu masih ada sekarang, hanya saja kini dibagi dengan brand olahraga,” tambahnya.
Buku Ace: The Style of Tennis kini tersedia di toko buku dan dianggap relevan karena fenomena budaya yang lebih luas, di mana sportswear dan pakaian olahraga semakin memengaruhi gaya jalanan sehari-hari. Dengan pendekatan riset mendalam dan wawancara eksklusif, buku ini menjadi arsip visual yang memperlihatkan bagaimana lapangan tenis telah menjadi karpet merah bagi para atlet dan ikon fashion.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan