Media Kampung – Dalam upaya memperkuat budaya tangguh bencana di Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) terus mendorong pelaksanaan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) secara berkelanjutan, khususnya di wilayah yang memiliki risiko tinggi bencana seperti kawasan Sesar Opak. Program ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan sekolah dan masyarakat dalam menghadapi ancaman gempa bumi dan bencana lainnya.
Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, menjelaskan bahwa pemerintah tengah menggalakkan sinergi antara kementerian, pemerintah daerah, sektor swasta, masyarakat, serta para ahli kebencanaan untuk mengoptimalkan penanggulangan bencana. “Kami berusaha mensinergikan semua pihak, tidak hanya pemerintah, tetapi juga sektor swasta dan masyarakat bersama para ahli,” ujarnya dalam wawancara dengan PRO3 RRI pada Rabu, 27 Mei 2026.
Fokus utama program SPAB saat ini diarahkan pada sepuluh sekolah yang berada di kawasan Sesar Opak yang memiliki risiko gempa tinggi, seiring dengan peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta 2006. Program ini menitikberatkan pada tiga aspek penting, yakni penguatan fisik bangunan sekolah, manajemen risiko bencana di lingkungan sekolah, serta literasi dan edukasi kebencanaan secara menyeluruh.
Simulasi kebencanaan menjadi elemen kunci dalam program SPAB untuk melatih kesiapsiagaan mandiri di sekolah. Lilik menegaskan bahwa setiap sekolah wajib memiliki rencana emergensi dan melakukan simulasi secara rutin, karena bencana dapat terjadi secara tiba-tiba dan bantuan dari pemerintah pusat biasanya memerlukan waktu untuk tiba di lokasi.
“Bencana datang sangat cepat, sementara bantuan pemerintah pusat membutuhkan waktu lama untuk sampai ke lokasi yang biasanya cukup jauh,” jelas Lilik. Oleh karena itu, kesiapsiagaan mandiri di tingkat sekolah dan masyarakat menjadi sangat krusial untuk meminimalkan risiko korban dan kerugian.
Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Sleman turut berpartisipasi dalam peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta 2006 yang digelar pada 23 Mei 2026 di Monumen Episentrum Gempa Yogyakarta, Bantul. Kepala BMKG Sleman, Ardhianto Septiadhi, menekankan pentingnya pemahaman potensi gempa bumi bagi masyarakat sebagai langkah mitigasi utama untuk mengurangi risiko bencana.
“Memahami potensi gempa dan dampaknya sangat penting agar masyarakat dapat melakukan mitigasi dan mengenali tanda bahaya, meski gempa tidak dapat diprediksi secara pasti,” ujarnya. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah yang mengintegrasikan edukasi kebencanaan ke dalam sistem pendidikan untuk membentuk budaya tangguh sejak dini.
Dengan langkah-langkah strategis melalui program SPAB dan kolaborasi lintas sektor, pemerintah berharap sekolah dan masyarakat dapat lebih siap menghadapi berbagai potensi bencana, khususnya di daerah rawan gempa seperti Sesar Opak. Program ini diharapkan menjadi pondasi kuat dalam membangun kesadaran dan kesiapsiagaan yang berkelanjutan di tingkat nasional.
Peningkatan kesadaran dan kesiapsiagaan ini menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi bencana nasional, mengingat Indonesia merupakan wilayah yang rawan gempa dan bencana alam lainnya. Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, program SPAB diharapkan mampu mengurangi dampak negatif bencana dan menyelamatkan lebih banyak nyawa di masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan