Media Kampung – Kesiapsiagaan menghadapi bencana masih menjadi persoalan besar di Indonesia, demikian ditegaskan Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan. Ia menyatakan bahwa meskipun bencana merupakan ancaman yang dekat dengan kehidupan masyarakat, kesadaran dan respons masyarakat terhadap informasi kebencanaan belum berjalan optimal.

Lilik memaparkan bahwa dalam dua dekade terakhir, perhatian masyarakat terhadap bencana hanya berlangsung singkat, biasanya satu hingga tiga tahun pascabencana besar sebelum kemudian memudar. Padahal, Indonesia memiliki memori kolektif dari peristiwa seperti gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah tahun 2006 yang menelan lebih dari 5.700 korban jiwa. Hal ini menjadi tantangan untuk menjaga kesadaran dan kesiapsiagaan secara berkelanjutan.

Lilik juga menekankan pentingnya memahami siklus adaptif alam dalam membangun kesiapsiagaan. Siklus ini meliputi kemunculan ancaman bencana, perubahan ancaman menjadi bencana, dan kemampuan masyarakat dalam merespons secara tepat. Ia menyebut modal sosial dan pengetahuan lokal yang diwariskan nenek moyang, seperti perilaku hewan, perubahan warna langit, suhu tanah, arah angin, dan kondisi tumbuhan sekitar, menjadi modal utama masyarakat dalam membaca tanda-tanda alam.

Selain itu, sains modern juga berperan penting dalam mitigasi bencana. Pengamatan melalui sensor dan analisis yang dilakukan oleh BMKG membantu sistem peringatan dini berfungsi dengan optimal. “Sains modern itu yang selama ini dilakukan oleh PMKG, mengamati, membuat sensor, kemudian membuat analisis,” tambah Lilik. Kombinasi antara pengetahuan tradisional dan teknologi modern dianggap vital dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.

Namun, tantangan terbesar bukan hanya menyampaikan informasi kebencanaan, melainkan bagaimana masyarakat merespons peringatan resmi tersebut. Lilik menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak efektif jika masyarakat bersikap apatis terhadap informasi ancaman bencana yang disampaikan pemerintah.

Dalam upaya menjaga memori kolektif dan meningkatkan kesadaran akan risiko bencana, Kemenko PMK bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melakukan penanaman pohon srikaya dan almon di kampus ISI. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta yang terjadi pada 27 Mei 2006. Penanaman pohon tersebut dilakukan sebagai penghormatan terhadap wilayah kampus yang terdampak parah dan diharapkan dapat mengingatkan sivitas akademika serta masyarakat akan pentingnya kesiapsiagaan.

Andre Notohamijoyo, Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, menyampaikan bahwa penanaman pohon secara simbolis ini bertujuan menjaga ingatan kolektif terhadap risiko bencana di Yogyakarta. Langkah ini juga diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman bencana yang mungkin terjadi di masa depan.

Dengan langkah-langkah tersebut, Kemenko PMK berupaya mendorong kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian dari budaya yang terus dipelihara. Kesadaran dan respons aktif masyarakat dianggap sebagai solusi utama menghadapi ancaman bencana yang menjadi bagian nyata dari kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.