Media Kampung – Pameran Keris Nasional 2026 dibuka di Museum Pusaka TMII, Jakarta Timur pada 23 Mei 2026, dan dijadwalkan berlangsung hingga 28 Juni 2026. Acara ini dirancang sebagai ruang edukasi budaya yang menargetkan generasi muda.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan harapannya bahwa pameran ini dapat menumbuhkan apresiasi mendalam terhadap keris di kalangan pemuda. Menurutnya, kunjungan langsung ke koleksi keris menjadi cara paling efektif untuk memahami nilai historis dan artistik benda tersebut.

“Kita harapkan mudah‑mudahan bisa menarik generasi muda untuk memahami, mengapresiasi keris, baik itu keris‑keris sepuh, keris‑keris tua maupun keris‑keris baru,” ujar Fadli Zon kepada wartawan setelah peresmian.

Pameran juga menjadi ajang bagi kolektor pribadi yang mempersembahkan koleksi mereka, menjadikan ruang tidak hanya sekadar transaksi tetapi juga platform edukasi. Penyelenggara menambahkan bahwa pengunjung dapat melihat proses penilaian dan perawatan keris secara langsung.

Keris, sebagai warisan budaya, tersebar luas dari Jawa hingga Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Lombok. Keberagaman ini menegaskan bahwa setiap wilayah memiliki ciri khas bentuk dan makna tersendiri.

Fadli Zon menyoroti perkembangan keris kontemporer yang diciptakan oleh empu‑empuk modern, menyebutnya sebagai karya adiluhung yang tetap berakar pada tradisi. Ia menegaskan bahwa kreativitas para maestro masa kini memperkaya khazanah keris tanpa menghilangkan nilai historis.

Keris telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, sehingga pelestarian dan penyebaran pengetahuan tentangnya menjadi tanggung jawab bersama. Pengakuan ini menjadi dasar kuat bagi program edukasi yang digelar dalam pameran.

Paguyuban Adopsi Keris Indonesia (Paksi) turut berperan dengan menekankan nilai filosofis keris sebagai cerminan kehidupan manusia. Ketua Umum Paksi, Andry Wijaya, menyatakan, “Keris itu mengandung nilai filosofi tinggi. Mereka menggambarkan kehidupan manusia.”

Selain menampilkan koleksi bersejarah, pameran menyajikan lokakarya singkat tentang cara mengidentifikasi motif ukir, bahan baja, dan teknik pembuatan. Kegiatan ini dirancang agar peserta dapat merasakan proses kreatif empu secara praktis.

Penutup acara pada 28 Juni akan diisi dengan diskusi panel yang melibatkan akademisi, pengrajin, dan perwakilan generasi muda, guna merumuskan langkah lanjutan pelestarian keris. Harapan semua pihak adalah agar semangat kebudayaan ini terus hidup di tengah dinamika era digital.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.