Media Kampung – PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan anak usahanya PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) tetap optimistis menghadapi tekanan pasar pada 2026. Meskipun harga saham kedua emiten properti ini telah anjlok lebih dari 50 persen sejak awal tahun, manajemen mempertahankan target marketing sales dan fokus pada strategi efisiensi serta sinergi grup.
PANI merupakan induk usaha utama bagi pengembangan megaproyek PIK 2 yang dimiliki patungan Agung Sedayu Group dan Salim Group. CBDK sebagai sub-holding mengelola klaster komersial premium, residensial syariah, dan fasilitas MICE di dalam ekosistem PIK 2.
Tekanan Pasar: Bubble Saham dan Suku Bunga Naik
Dua faktor utama menjadi penyebab koreksi tajam saham PANI dan CBDK. Pertama, isu bubble saham konglomerasi yang mencuat setelah MSCI menyentil saham PANI pada akhir Januari lalu. Kedua, kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) sebesar 75 bps menjadi 5,50 persen dalam dua bulan, lebih cepat dari ekspektasi pasar.
Free float PANI yang dilaporkan perusahaan sebesar 15 persen sempat menjadi sorotan, meskipun regulator mencatat angka 8 persen. Manajemen mengklaim telah memenuhi kewajiban melalui rights issue pada akhir 2025. Sementara itu, CBDK dinilai lebih aman dengan free float 12 persen yang sesuai antara laporan perusahaan dan regulator.
Kinerja Keuangan Solid di Kuartal I 2026
Meskipun harga saham tertekan, kinerja keuangan kedua emiten justru menunjukkan pertumbuhan signifikan. PANI membukukan pendapatan Rp1,11 triliun pada kuartal I 2026, naik hampir dua kali lipat dibanding periode sama tahun sebelumnya. Laba bersihnya melonjak lebih dari 1000 persen menjadi Rp578 miliar.
CBDK juga mencatat pendapatan Rp742 miliar, tumbuh 74 persen, dengan laba bersih melejit 317 persen menjadi Rp542 miliar. Pendapatan CBDK menyumbang lebih dari 67 persen dari pendapatan konsolidasi PANI, menjadikannya anak usaha paling material.
Target Marketing Sales dan Pencapaian Awal
PANI menetapkan target marketing sales Rp4,3 triliun pada 2026, dengan komposisi 18 persen produk komersial, 59 persen residensial, dan 23 persen kavling komersial. Hingga kuartal I, realisasi baru mencapai 23 persen, didominasi residensial (47 persen) dan kavling komersial (43 persen).
CBDK memasang target lebih konservatif sebesar Rp563 miliar, namun sudah melampaui 28 persen di kuartal I. Komposisi penjualan didominasi kavling tanah komersial (83 persen), diikuti residensial (18 persen). Manajemen sengaja menurunkan target sejak CBDK IPO dan mulai diversifikasi ke bisnis MICE.
Prospek Bisnis MICE dan Lipstick Effect
PANI melalui CBDK mengandalkan lini bisnis pendapatan berulang (recurring income) dari sektor MICE melalui megaproyek Nusantara International Convention Exhibition (NICE). Fenomena lipstick effect—di mana masyarakat beralih ke kemewahan terjangkau saat ekonomi sulit—menjadi katalis positif bagi fasilitas ini.
NICE mulai beroperasi sebagian pada kuartal keempat 2025 dan telah menggelar 16 acara, dengan 46 acara dalam pipeline hingga akhir tahun. Beberapa agenda besar termasuk konser Westlife, Java Jazz Festival, Hammersonic Festival, dan Hyrox. Manajemen menargetkan recurring income Rp200 miliar pada 2026, dan diperkirakan meningkat signifikan pada 2027 setelah operasional penuh.
Valuasi Saham dan Ekspektasi ke Depan
Saham PANI saat ini diperdagangkan pada PE 67 kali dan PBV 4,11 kali—masih premium dibanding emiten properti lain yang banyak di bawah PBV 1 kali. CBDK memiliki valuasi lebih wajar dengan PE 10 kali dan PBV 1,98 kali. Pasar memperkirakan laba bersih konsolidasi PANI mencapai Rp3,3 triliun dan CBDK Rp2,7 triliun pada 2027, didorong pendapatan berulang dari NICE dan Hotel Hilton Jakarta PIK2 yang akan beroperasi tahun depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan