Media Kampung – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) meminta pemerintah menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga daya saing dunia usaha setelah harga Pertamax naik. Sekretaris Jenderal HIPMI Anggawira menilai kebijakan ini merupakan upaya menjaga kesehatan fiskal negara di tengah tantangan ekonomi.

Anggawira menegaskan bahwa stabilitas fiskal berpengaruh terhadap kondisi ekonomi makro, nilai tukar rupiah, iklim investasi, dan kepercayaan pasar. Ia mengingatkan penyesuaian harga energi harus dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan pelaku usaha.

Menurut Anggawira, kenaikan Pertamax berpotensi meningkatkan biaya operasional sektor logistik, transportasi, konstruksi, perkebunan, dan UMKM. Efek berantai terhadap biaya distribusi, bahan baku, dan operasional lainnya menjadi kekhawatiran utama.

Ruang pelaku usaha untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen masih terbatas akibat daya beli masyarakat. Oleh karena itu, HIPMI mendorong efisiensi logistik, pembangunan infrastruktur, dan insentif bagi sektor usaha terdampak.

HIPMI juga mendorong pemerintah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperluas akses pembiayaan yang kompetitif. Langkah ini diharapkan memberi ruang bagi dunia usaha untuk melakukan penyesuaian.

Selain itu, HIPMI mendorong percepatan penggunaan teknologi hemat energi, seperti kendaraan berbasis gas dan listrik, sebagai strategi adaptasi. Anggawira menekankan bahwa yang dibutuhkan dunia usaha bukan hanya harga energi murah, melainkan kepastian usaha, efisiensi ekonomi, dan iklim investasi yang kondusif.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.