Media Kampung – Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan berat dalam empat hari perdagangan terakhir, dengan IHSG hancur lebur 4 hari beruntun hingga anjlok ke level 5.374,18 pada sesi pertama Senin, 8 Juni 2026. Pengamat menilai kondisi ini merupakan repricing ekstrem akibat meningkatnya ketidakpastian kebijakan domestik dan aksi jual massal investor.

Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan bahwa pelaku pasar meragukan stabilitas instrumen investasi dalam negeri. “Ketika tingkat ketidakpastian meningkat, investor cenderung meminta kompensasi berupa valuasi murah sebelum kembali masuk ke pasar,” ujarnya dikutip dari Media Kampung.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan koreksi beruntun sejak Rabu, 3 Juni 2026. Pada penutupan Rabu, IHSG melemah 4,11% ke 5.941,07. Kamis, 4 Juni 2026, indeks melanjutkan koreksi pada sesi I ke 5.734,25 (-3,48%), meski sedikit membaik ke 5.839,78 (-1,70%) saat penutupan. Jumat, 5 Juni 2026, tekanan kembali terjadi dengan IHSG melemah tajam pada sesi I ke 5.692,15 (-2,53%) dan ditutup di 5.594,77 (-4,20%). Pada Senin, 8 Juni 2026, sesi I pukul 10.30 WIB, IHSG anjlok 3,94% ke 5.374,18—menandai koreksi empat hari berturut-turut.

Menurut Hendra, perhatian utama investor tertuju pada peningkatan ketidakpastian arah kebijakan, keberlanjutan fiskal, stabilitas nilai tukar, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan publik. Faktor domestik kini lebih dominan dibanding global, seperti suku bunga The Fed atau ketegangan geopolitik. “Ketika tekanan global terjadi bersamaan dengan pertanyaan mengenai kebijakan domestik, dampaknya terhadap Indonesia menjadi lebih besar dibanding negara lain,” jelasnya.

Berbagai isu sensitif seperti outlook rating, kebijakan anggaran, pengelolaan Danantara, dan revisi regulasi mendadak memperburuk persepsi pasar. Hendra menekankan bahwa pelaku pasar mengutamakan konsistensi dan transparansi tata kelola. “Dalam dunia investasi, ketidakpastian sering kali lebih ditakuti dibanding berita buruk itu sendiri. Investor dapat menghitung risiko apabila datanya jelas, tetapi akan cenderung mengurangi eksposur apabila sulit memperkirakan arah kebijakan ke depan,” pungkasnya.

Hingga sesi pertama perdagangan Senin, 8 Juni 2026, IHSG masih berada dalam tekanan dengan capital outflow yang terus berlanjut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.