Peluang Restocking Bakalan Sapi Pasca-Kurban

Media Kampung – Momen setelah Iduladha menjadi waktu strategis bagi peternak untuk melakukan restocking bakalan sapi dengan harga yang lebih murah. Saat permintaan menurun, harga bakalan cenderung turun sehingga peternak dapat membeli sapi bakalan dengan biaya lebih efisien guna persiapan bisnis kurban tahun berikutnya.

Strategi Peternak Menghadapi Musim Kurban

Sabto Danadi, peternak dari Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, rutin memanfaatkan periode pasca-kurban untuk pengadaan sapi bakalan. Kandang miliknya yang berkapasitas 64 ekor sudah penuh dengan sapi yang disiapkan menjelang Ramadan 2026 untuk memenuhi kebutuhan pasar kurban.

Jenis Sapi yang Paling Diminati

Menurut Sabto, sapi Simmental dan Limousin paling banyak diminati karena nilai Average Daily Gain (ADG) tinggi, yaitu 1-1,2 kg per hari. ADG ini menjadi tolok ukur keberhasilan program penggemukan sapi, mencerminkan efisiensi pertumbuhan bobot ternak selama masa pemeliharaan.

Selain itu, sapi peranakan ongole (PO), pegon, dan brahman juga dicari konsumen. Sapi PO menarik karena postur tubuhnya yang tinggi dan gagah, cocok untuk pasar kurban, meskipun produktivitasnya lebih rendah dibanding sapi hasil persilangan. Oleh karena itu, banyak peternak kini mengembangkan sapi hasil persilangan antara PO dengan Simmental atau Limousin untuk mendapatkan sapi dengan pertumbuhan bobot cepat dan daya tahan tubuh baik.

Performa Persilangan Sapi

Hasil persilangan sapi ini banyak mendominasi kontes ternak karena kombinasi ukuran tubuh besar dan pertumbuhan bobot yang optimal. Namun, tidak semua hasil persilangan memiliki performa maksimal. Istilah sapi kopyoran digunakan untuk sapi silangan dengan kualitas menengah yang terlihat besar secara fisik namun bobot karkasnya lebih rendah saat dipotong.

Perbedaan Harga dan Keuntungan Pasar Kurban

Pasar sapi kurban menawarkan margin keuntungan lebih tinggi dibandingkan pasar sapi potong reguler. Harga sapi hidup di rumah potong hewan biasanya mengikuti acuan pemerintah sekitar Rp55.000-Rp60.000 per kg bobot hidup. Namun, menjelang Iduladha harga dapat naik hingga Rp70.000-Rp80.000 per kg.

Kenaikan harga yang signifikan ini menjadi alasan utama banyak peternak membeli bakalan segera setelah musim kurban berakhir, saat harga lebih rendah dan mereka memiliki waktu cukup untuk penggemukan sapi hingga musim kurban berikutnya.

Segmentasi Konsumen dan Target Penggemukan

Sabto membagi konsumennya ke dalam tiga segmen pasar: ekonomi, super, dan VIP, dengan kebutuhan bobot sapi yang berbeda. Segmen ekonomi memilih sapi sekitar 300 kg, sementara segmen super dan VIP menghendaki sapi berbobot 800-1.000 kg atau lebih.

Untuk memenuhi target berat sapi yang tinggi, penggemukan harus dimulai jauh hari. Misalnya, untuk menaikkan bobot sapi dari 500 kg menjadi 800 kg dengan ADG 1 kg per hari, dibutuhkan waktu penggemukan sekitar 300 hari atau 10 bulan.

Strategi Optimal Restocking dan Penggemukan

Memperoleh bakalan sapi dengan harga kompetitif segera setelah musim kurban selesai sangat penting agar peternak memiliki waktu optimal untuk penggemukan. Hal ini memungkinkan hasil akhir sapi kurban berbobot besar dan bernilai jual tinggi saat musim kurban tiba, sekaligus memberikan margin keuntungan maksimal.

Dengan demikian, periode pasca-kurban menjadi momentum strategis bagi peternak dalam menjalankan bisnis kurban secara lebih efisien dan menguntungkan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.