Media Kampung – Harita Nickel Beberkan Strategi di Tengah Tekanan Harga dan Tantangan Bisnis melalui pendekatan yang menekankan efisiensi operasional, pengelolaan rantai nilai yang bertanggung jawab, dan komitmen ESG yang kuat. Head of Investor Relations, Lukito Gozali, menjelaskan bahwa perusahaan tetap melanjutkan operasi terukur hingga 2026, meski pasar nikel global berada dalam tekanan harga yang signifikan.

Operasional Terukur di Seluruh Rantai Nilai

Harita Nickel menekankan bahwa semua lini produksi—dari penambangan bijih nikel di Pulau Obi, pengolahan pirometalurgi di smelter RKEF, hingga pengolahan hidrometalurgi di smelter HPAL—berjalan sesuai target. Pendapatan tercatat Rp 29,63 triliun pada 2025 dan Rp 6,81 triliun pada kuartal I 2026, menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga kesinambungan usaha di tengah dinamika pasar.

Fokus pada Efisiensi dan Pengendalian Biaya

  • Optimalisasi proses penambangan dengan teknologi modern.
  • Penerapan waste heat recovery untuk mengurangi konsumsi energi.
  • Penggunaan biosolar dan gasifikasi batu bara sebagai sumber energi alternatif.

Penguatan Standar ESG dan Audit Internasional

Sejalan dengan standar The Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), Harita Nickel kini berada pada tahap corrective action dan bersiap menjalani audit Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) Supply Chain Due Diligence Plus (SCDDP). Langkah ini menegaskan komitmen perusahaan terhadap praktik tambang yang berkelanjutan dan transparan.

Pengurangan Emisi Karbon

Pada kuartal I 2026, perusahaan berhasil menghindari emisi sebesar 977.278 ton CO₂e, meningkat 37 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian ini didukung oleh:

  1. Pemanfaatan kembali panas buang (waste heat recovery).
  2. Implementasi biosolar pada armada operasional.
  3. Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 40 MWp dan pembangkit berbasis panas buang HPAL sebesar 50 MWp.
  4. Penerapan Energy Management System untuk monitoring dan optimalisasi konsumsi energi.

Respons terhadap Tekanan Harga Nikel Global

Walaupun harga nikel berada dalam tekanan, Harita Nickel tidak mengurangi investasi strategis. Lukito Gozali menegaskan bahwa perusahaan tetap fokus pada “operasional tetap berjalan secara efisien, terukur, dan bertanggung jawab”. Strategi diversifikasi produk—seperti produksi MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) dan nikel sulfat—menjadi penopang utama untuk menyeimbangkan margin di pasar yang volatil.

Prospek Jangka Panjang dan Daya Saing

Harita Nickel Beberkan Strategi di Tengah Tekanan Harga dan Tantangan Bisnis sebagai upaya memperkuat daya saing jangka panjang. Investasi pada energi terbarukan, peningkatan standar ESG, dan pengelolaan rantai pasok yang transparan dipandang sebagai faktor kunci untuk menarik investor institusional dan memperluas pangsa pasar internasional.

Kesimpulannya, perusahaan tambang nikel Indonesia ini menegaskan komitmen terhadap efisiensi operasional, pengurangan emisi, serta kepatuhan pada standar ESG global. Dengan langkah‑langkah tersebut, Harita Nickel siap mengatasi tekanan harga dan tantangan bisnis, sekaligus berkontribusi pada agenda transisi energi bersih Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.