Media Kampung – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah mengonfirmasi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1.600 buruh di pabrik mainan PT Combine Will Industrial Indonesia (CWII) di Sragen. Kepala Disnakertrans Jateng, Ahmad Aziz, menyatakan PHK disebabkan oleh penurunan pesanan dan kenaikan harga bahan baku plastik sejak konflik AS-Iran, sehingga perusahaan tidak memperpanjang kontrak kerja para buruh yang sebelumnya diperbarui setiap enam bulan.
Aziz menambahkan bahwa para buruh yang terdampak PHK tidak menerima pesangon karena kontrak kerja mereka memang telah berakhir, namun tetap memperoleh kompensasi sesuai ketentuan. Total tenaga kerja di perusahaan tersebut mencapai hampir 10.000 orang.
Sementara itu, di Jakarta Utara, ratusan buruh PT Indomarco Prismatama, pengelola gerai Indomaret, menggelar unjuk rasa menuntut pembayaran upah lembur yang selama ini tidak dibayar penuh, khususnya untuk kerja lembur pada hari libur nasional. Demonstrasi berlangsung di depan Menara Indomaret dan kantor Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) pada Selasa, 26 Mei 2026.
Massa buruh yang tergabung dalam PUK SPAI FSPMI menyuarakan enam tuntutan, antara lain menolak pemaksaan dan intimidasi, menegaskan hak atas upah lembur, menolak penggantian upah lembur dengan hari libur tambahan, serta menuntut kepatuhan perusahaan terhadap peraturan ketenagakerjaan.
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menyatakan telah membuka jalur komunikasi dan menunggu laporan hasil mediasi yang dilakukan Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor. Hingga saat ini, laporan komprehensif terkait mediasi belum diterima.
Dari pihak Indomaret, Customer Relationship Management Executive Director Gondo Sudjoni menjelaskan bahwa kebijakan pembayaran upah lembur hari libur nasional tidak dihapus sepenuhnya. Menurutnya, ada kesalahpahaman antara manajemen dan karyawan karena sebagian upah lembur tetap dibayarkan, dan sebagian diganti dengan hari libur. Gondo menyebut penyesuaian ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan bisnis di tengah kenaikan biaya operasional akibat melambatnya ekonomi global dan kenaikan harga bahan baku.
Gondo juga membantah adanya intimidasi terhadap karyawan dan menekankan bahwa perusahaan menampung semua aspirasi buruh untuk dibahas bersama demi menjaga hubungan industrial yang baik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan