Media Kampung, Lebak – Kasus stunting di Kabupaten Lebak mengalami peningkatan yang signifikan hingga Agustus 2026. Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Lebak menunjukkan sebanyak 5.550 balita atau 5,4 persen dari total 102.154 balita yang ditimbang dan diukur mengalami stunting. Angka ini naik 0,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Fakta Utama Kasus Stunting di Lebak
Kenaikan angka stunting ini menjadi perhatian khusus Dinkes Lebak. Pada tahun 2025, jumlah balita stunting tercatat sebanyak 4.685 anak atau 4,6 persen dari total balita yang ditimbang. Kepala Dinkes Lebak, Eka Darmana Putra, mengonfirmasi data tersebut dan menyebutkan bahwa kecamatan Cikulur menjadi wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi di kabupaten tersebut.
Puskesmas Cikulur melaporkan 538 balita mengalami stunting atau 29,56 persen dari 1.820 balita yang ditimbang dan diukur. Angka ini jauh di atas rata-rata kabupaten dan menjadi titik kritis yang harus mendapat perhatian khusus.
Penyebab dan Faktor Pendukung
Kenaikan kasus stunting di Lebak tidak terlepas dari berbagai faktor, termasuk belum tercapainya target layanan kesehatan. Misalnya, pemeriksaan kehamilan sesuai standar baru mencapai 45,96 persen dari target 66,6 persen. Capaian pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan juga masih rendah, yaitu 52,14 persen, serta pelayanan bayi baru lahir yang baru mencapai 52,54 persen.
Selain layanan kesehatan, beberapa faktor lain turut berkontribusi, seperti:
- Calon pengantin yang belum mengikuti bimbingan pencegahan stunting.
- Rendahnya pemanfaatan lahan pekarangan untuk pangan lokal.
- Pendampingan keluarga yang belum optimal.
- Balita tanpa jaminan kesehatan.
- Rumah tangga yang belum memiliki sanitasi aman.
- Balita yang belum menerima imunisasi dasar lengkap.
Upaya Intervensi dan Program Penanggulangan
Dinkes Lebak menjalankan berbagai intervensi untuk menekan angka stunting, antara lain:
- Pemberian susu tinggi kalori atau Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) kepada balita stunting berdasarkan pemeriksaan dokter spesialis anak.
- Pemberian makanan tambahan lokal bagi balita dengan masalah gizi dan ibu hamil yang berisiko kekurangan energi kronis (KEK).
- Pemberian tablet tambah darah untuk remaja putri.
- Konseling bagi calon pengantin dan pemeriksaan rutin ibu hamil.
- Pelayanan persalinan dan bayi baru lahir yang lebih optimal.
- Skrining kesehatan dan pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita secara rutin setiap bulan.
- Pelayanan KB pascapersalinan dan deteksi dini tumbuh kembang.
- Program Aksi Bergizi di sekolah untuk mendukung pencegahan stunting secara berkelanjutan.
Harapan dan Tantangan
Kepala Dinkes Lebak berharap kolaborasi lintas sektor dalam pelaksanaan intervensi spesifik dan sensitif dapat menurunkan angka stunting di Kabupaten Lebak. Penanganan yang terintegrasi diharapkan mampu mencegah bertambahnya kasus baru dan meningkatkan kualitas hidup balita serta generasi mendatang.
Tantangan terbesar saat ini adalah meningkatkan cakupan layanan kesehatan dasar dan memperbaiki faktor sosial ekonomi yang berpengaruh terhadap gizi anak. Peran aktif masyarakat dan pemerintah daerah menjadi kunci keberhasilan program ini.













Tinggalkan Balasan