Media Kampung – Fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat diprediksi akan menyebabkan musim kemarau berkepanjangan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT), Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, dan Papua Tengah hingga awal tahun 2027. Kondisi ini menimbulkan risiko kekeringan yang signifikan serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa indeks ENSO di wilayah Nino3.4 mencapai +2,99 yang menandakan El Nino sangat kuat. Selain itu, dinamika atmosfer lain seperti Indian Ocean Dipole (IOD) berpotensi memasuki fase positif hingga Oktober 2026, yang menghambat pembentukan awan dan curah hujan di Indonesia. Angin timuran dan Monsun Australia yang kering juga memperkuat kondisi kering ini.
Di NTT, BMKG memperingatkan bahwa curah hujan akan turun drastis dan kemarau panjang berpotensi berlangsung hingga awal 2027. Kondisi ini terlihat nyata dengan kerusakan vegetasi seperti rumput yang mengering di Kota Kupang. Warga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan yang mengancam kebutuhan air dan pertanian.
Di DIY, BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Yogyakarta menetapkan status awas untuk risiko karhutla di seluruh kabupaten dan kota. Intensitas El Nino sangat kuat dan indeks IOD yang meningkat menyebabkan kondisi atmosfer sangat kering. Masyarakat diminta tidak membakar sampah sembarangan, mengawasi anak-anak agar tidak bermain api, dan segera melapor jika menemukan titik api.
Di Papua Tengah, khususnya Kabupaten Nabire, BMKG mencatat sebanyak 1.923 titik panas selama 10-22 Agustus 2026, dengan 1.069 titik di antaranya berada di Nabire. Curah hujan yang rendah dan penurunan sumber air membuat lahan sangat rentan terbakar, menimbulkan asap yang menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan pernapasan.
Jawa Tengah juga menghadapi potensi kekeringan meteorologis dengan curah hujan rendah di bawah 50 milimeter per dasarian. Beberapa wilayah di Jateng masuk kategori awas, siaga, dan waspada. Kekeringan ini dapat mengancam pertanian dan kebutuhan air masyarakat jika tidak dikelola dengan baik.
Sementara itu, cuaca di Sulawesi Tengah diperkirakan akan tetap cerah hingga akhir Agustus 2026 tanpa potensi hujan. Kelembapan udara menurun dan suhu udara bervariasi antara 16 hingga 36 derajat Celsius. Kondisi kering ini juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran dan dampak kekeringan lainnya.
Secara keseluruhan, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk meningkatkan kewaspadaan, menghemat penggunaan air, dan mencegah tindakan yang dapat memicu kebakaran seperti membakar sampah sembarangan atau membuang puntung rokok. Penanganan dini dan pelaporan cepat terhadap titik api sangat penting untuk mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan yang dapat merugikan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Fenomena El Nino yang kuat ini menjadi peringatan bagi seluruh daerah terdampak agar bersiap menghadapi kondisi kemarau panjang yang dapat berdampak luas pada sektor pertanian, ketersediaan air, kualitas udara, dan kesehatan masyarakat.













Tinggalkan Balasan