Media Kampung, Pekanbaru – Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, saat ini mengalami penurunan kualitas udara yang sangat berbahaya akibat kabut asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kabut asap tersebut menyebabkan jarak pandang menurun drastis hingga sekitar 2 kilometer, dan kadar partikel PM2,5 mencapai level yang mengancam kesehatan masyarakat.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru melaporkan bahwa sejak Selasa dini hari, konsentrasi PM2,5 di Pekanbaru sempat menyentuh angka 508,8 mikrogram per meter kubik, yang jauh melebihi batas aman kualitas udara. Kondisi serupa juga terjadi di beberapa wilayah lain di Provinsi Riau, seperti Rengat, Tambang, dan Pelalawan yang juga diselimuti asap dengan jarak pandang terbatas.
Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera masih berlangsung dengan jumlah titik panas mencapai 2.193, terbanyak di Sumatera Selatan dan Riau. Kabupaten Pelalawan di Riau menjadi daerah dengan titik panas terbanyak dan mengalami kebakaran lahan terbesar, mencapai 700 hektare.
Akibat kondisi ini, pemerintah setempat mengambil langkah pembelajaran daring untuk sekolah-sekolah di Pekanbaru dan Pelalawan guna melindungi peserta didik dari paparan asap berbahaya. Masyarakat juga dihimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker kesehatan saat beraktivitas.
Selain itu, paparan asap karhutla juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan serius, terutama bagi penderita penyakit pernapasan seperti asma. Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan agar penderita asma rutin menggunakan obat inhaler sesuai anjuran dokter dan waspada terhadap serangan asma akut saat terpapar asap. Kandungan partikel halus PM2,5 dan gas berbahaya dalam asap dapat memicu inflamasi dan gangguan pernapasan akut hingga risiko gangguan kardiovaskular.
Lebih lanjut, kebakaran hutan yang berlangsung lama juga mengganggu akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, transportasi, dan ketersediaan air bersih, memperparah dampak yang dirasakan warga terdampak.
Di tingkat regional, Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura juga memperingatkan potensi memburuknya kualitas udara akibat asap karhutla yang terbawa angin dari Sumatera dan Kalimantan. Hal ini menunjukkan dampak kabut asap tidak hanya dirasakan di dalam negeri, melainkan juga di negara tetangga.
Upaya mitigasi dan penanganan kebakaran hutan serta perlindungan kesehatan masyarakat menjadi prioritas utama di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk ini.















Tinggalkan Balasan