Media Kampung, Jakarta – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, mengimbau pemerintah untuk mengambil langkah luar biasa dalam mengatasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Kalimantan. Kebakaran hutan yang semakin meluas ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga sektor kesehatan, pendidikan, transportasi, dan kegiatan ekonomi di wilayah tersebut.
Kondisi ini diperparah oleh fenomena cuaca kering akibat El Nino yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Fenomena serupa pernah terjadi pada 1997-1998 dan memicu kebakaran lebih dari 9 juta hektare lahan di Kalimantan, yang menjadi bencana lingkungan terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-20.
Dampak Luas Kebakaran Hutan di Kalimantan
Indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) di Palangka Raya sempat mencapai angka 487 pada 19 Agustus 2026, yang masuk kategori berbahaya. Kabut asap pekat memaksa pemerintah menunda jam masuk sekolah di tingkat SD dan SMP hingga pukul 08.00 WIB, sementara pembelajaran di PAUD dialihkan ke metode jarak jauh. Jarak pandang di beberapa wilayah juga turun drastis hingga hanya 1,4 kilometer.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 19 Agustus 2026, terdapat 1.487 titik panas (hotspot) di seluruh Kalimantan. Kalimantan Tengah menjadi episentrum dengan 767 titik panas, diikuti Kalimantan Barat (441 titik), Kalimantan Selatan (34 titik), dan Kalimantan Utara (17 titik). Kebakaran tersebar hampir di semua provinsi di pulau tersebut.
Prioritas Nasional dan Evaluasi Kebijakan
Alex menekankan bahwa penanganan Karhutla harus menjadi prioritas nasional. Beberapa daerah, seperti Kabupaten Kotawaringin Barat di Kalimantan Tengah, telah memperpanjang status tanggap darurat hingga 4 September 2026. Di wilayah ini, kebakaran telah menghanguskan 859,49 hektare lahan dengan 189 kejadian dan 461 titik panas, dengan Kecamatan Arut Selatan dan Kumai sebagai daerah terdampak terparah.
Menurut data MapBiomas Fire, puncak kebakaran biasanya terjadi antara September hingga November, dengan Oktober sebagai puncak tertinggi. Catatan sejarah ini menjadi peringatan bagi pemerintah untuk mengevaluasi metode penanggulangan yang selama ini diterapkan agar bencana serupa tidak terulang kembali.
Strategi Mitigasi dan Peran Masyarakat
Alex Indra Lukman mengusulkan beberapa langkah strategis, antara lain:
- Penguatan sistem deteksi dini dan patroli di wilayah rawan kebakaran.
- Peningkatan akurasi sistem peringatan dini berbasis satelit.
- Pengembangan program Desa Peduli Api dan pelatihan alternatif pembukaan lahan tanpa pembakaran.
Selain itu, pendekatan jangka panjang sangat diperlukan, dengan fokus pada pencegahan, peningkatan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat, dan tata kelola lahan yang berkelanjutan untuk mengurangi risiko kebakaran di masa mendatang.















Tinggalkan Balasan