Media Kampung – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) telah menjalankan seleksi ketat terhadap ribuan proposal proyek dalam 1,5 tahun terakhir, dengan hanya kurang dari 1 persen proyek yang lolos ke tahap eksekusi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan investasi yang dilakukan memiliki potensi pengembalian yang optimal dan nilai ekonomi tinggi.

Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menyatakan bahwa sejak Oktober 2025, lebih dari 1.000 proposal proyek masuk, namun hanya yang memenuhi standar ketat yang diterima. Proses ini juga menghadapi tantangan menyeimbangkan antara proyek yang populer secara strategis dengan proyek yang memberikan multiplier effect ekonomi yang tinggi.

Baca juga:

Investasi Proyek Berbasis Manfaat Sosial dan Ekonomi

Danantara memberikan perhatian pada proyek yang berdampak langsung bagi masyarakat, seperti proyek waste to energy (WTE) yang mengubah sampah menjadi listrik. Dalam waktu singkat, tiga proyek WTE telah menandatangani perjanjian jual beli listrik dengan PLN, mempercepat pengembangan energi terbarukan di Indonesia, khususnya di Bali.

Selain itu, investasi di kawasan Kampung Haji di Arab Saudi juga menjadi fokus, memberikan manfaat langsung bagi jemaah umrah Indonesia dan menghasilkan arus kas yang digunakan untuk membangun fasilitas hotel di kawasan tersebut.

Investasi Strategis di Perusahaan Protein Global

Salah satu proyek terbesar adalah rencana investasi pada perusahaan protein global dengan pendapatan lebih dari USD 10 miliar per tahun dan puluhan ribu karyawan. Investasi ini memberi Danantara akses langsung ke teknologi dan pengetahuan di industri protein, yang sangat penting untuk ketahanan pangan nasional di tengah perubahan iklim.

Baca juga:

Pandu menjelaskan bahwa memilih investasi langsung ke perusahaan induk memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan membangun fasilitas serupa secara mandiri di dalam negeri.

Pemulihan Pasar Modal dan Dorongan Demutualisasi Bursa

Selain investasi, Danantara fokus pada pemulihan pasar modal Indonesia yang mengalami tekanan, dengan kapitalisasi pasar menurun dari sekitar USD 850-900 miliar menjadi USD 580 miliar dan keluar dana asing mencapai USD 8-9 miliar.

Dalam 12 bulan ke depan, Danantara akan mengupayakan penguatan teknologi pasar modal, pengembangan produk-produk baru termasuk instrumen derivatif, dan memperkuat koneksi dengan bursa regional dan global.

Baca juga:

Salah satu agenda penting adalah mendorong demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) agar Danantara dapat menjadi pemegang saham dan memacu reformasi internal pasar modal. Langkah ini diharapkan meningkatkan daya saing BEI di kancah global.

Kesimpulan

Dengan seleksi ketat, investasi strategis, dan fokus pemulihan pasar modal, Danantara berupaya membangun kepercayaan investor dan memperkuat posisi Indonesia dalam investasi global. Pendekatan profesional dan berorientasi manfaat ekonomi serta sosial menjadi kunci dalam perjalanan 1,5 tahun pengelolaan investasi negara ini.