Media Kampung, Lampung – Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Minggu sore, 16 Agustus 2026, pukul 17.06 WIB. Kolom abu vulkanik membubung tebal dari kawah gunung, menandai peningkatan aktivitas vulkanik yang memicu larangan bagi kapal wisatawan untuk mendekati area tersebut.
Erupsi kali ini terjadi setelah sebelumnya pada pagi hari pukul 09.12 WIB, gunung tersebut juga mengeluarkan kolom abu setinggi sekitar 200 meter di atas puncak atau 357 meter di atas permukaan laut. Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta pengamatan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung mencatat adanya gempa letusan dengan amplitudo 43 milimeter dan durasi 59 detik pada pagi hari tersebut.
Aktivitas Vulkanik Terpantau Intens
Selain erupsi, aktivitas kegempaan di sekitar Gunung Anak Krakatau didominasi oleh tremor menerus dengan amplitudo berkisar antara 5 hingga 30 milimeter, dengan nilai dominan 10 milimeter. Secara visual, gunung terlihat jelas dengan intensitas kabut 0 sampai III. Asap kawah utama berwarna putih hingga hitam dengan intensitas yang bervariasi dari tipis sampai tebal, membubung setinggi 30 sampai 200 meter dari puncak.
Kolom abu hasil erupsi berwarna kelabu hingga hitam dan bergerak ke arah barat daya dan barat, sesuai dengan arah angin yang bertiup lemah di kawasan tersebut. Suhu udara di sekitar kawasan tercatat antara 27,6 hingga 31,3 derajat Celsius dengan kelembapan 68 hingga 82 persen. Kondisi ombak di laut sekitar Gunung Anak Krakatau juga dilaporkan tenang.
Status dan Imbauan Keamanan
Hingga saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. BPBD Lampung secara tegas mengimbau masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki untuk tidak mendekati gunung maupun melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Langkah ini diambil untuk meminimalisir risiko bahaya yang mungkin terjadi akibat peningkatan aktivitas gunung berapi tersebut.
Pentingnya Pemantauan dan Kesiapsiagaan
Kejadian erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan dan pemantauan terus-menerus terhadap aktivitas gunung berapi di Indonesia. Dengan potensi bencana yang dapat membahayakan keselamatan masyarakat sekitar dan pengunjung, koordinasi antara instansi terkait dan edukasi kepada publik menjadi kunci utama dalam menghadapi bencana vulkanik.














Tinggalkan Balasan