Media Kampung – Warga Inggris kini mulai mengurangi tabungan mereka sebagai respons terhadap lonjakan biaya hidup yang dipicu oleh perang antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan harga bahan bakar dan energi yang signifikan sejak Februari 2026 telah menggerus daya beli masyarakat dan memaksa banyak rumah tangga menggunakan simpanan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
Sejak pandemi COVID-19, masyarakat Inggris berhasil membangun bantalan keuangan yang cukup besar. Namun, kondisi geopolitik yang tidak menentu di Timur Tengah telah menyebabkan harga bahan bakar naik hingga 20 persen, sementara harapan penurunan suku bunga oleh Bank of England semakin menipis. Inflasi yang terus meningkat, biaya kredit pemilikan rumah yang naik, dan stagnasi upah turut memperberat kondisi keuangan masyarakat.
Meski demikian, data menunjukkan konsumen Inggris masih aktif berbelanja, bahkan penjualan ritel dan penggunaan kartu kredit meningkat, terutama didorong oleh momen Piala Dunia 2026 dan cuaca cerah yang mendukung aktivitas konsumsi. Namun, peningkatan pengeluaran ini banyak yang berasal dari pengurangan tabungan, terutama di kalangan rumah tangga berpendapatan menengah ke atas.
Menurut Rob Wood, Kepala Ekonom Inggris di Pantheon, konsumen memandang guncangan pendapatan ini sebagai kondisi sementara sehingga mereka memilih mengurangi tabungan untuk mempertahankan standar hidup. Data resmi Bank of England memperlihatkan penurunan tabungan rumah tangga menjadi 44,5 miliar poundsterling pada kuartal pertama 2026, turun 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Ketahanan konsumen ini turut membantu menjaga stabilitas perekonomian Inggris, yang tercermin dari pertumbuhan sektor swasta dan aktivitas ekonomi yang relatif tangguh pada Juli 2026. Namun, ketimpangan ekonomi semakin terlihat karena kelompok berpendapatan tinggi masih mampu berbelanja dan menabung, sementara kelompok lain menghadapi tekanan biaya hidup yang berat.
Di sisi lain, ketegangan perang AS-Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda terus menekan harga energi secara global. Penutupan jalur vital Selat Hormuz dan gangguan pasokan minyak menyebabkan kenaikan harga minyak dunia hingga 25-30 persen di atas asumsi anggaran tahunan. Hal ini memberi tekanan tambahan pada ekonomi nasional dan rumah tangga.
Perang yang juga berdampak luas pada sektor pangan melalui kenaikan biaya produksi akibat harga energi dan pupuk yang tinggi, diperparah oleh fenomena El Nino dan konflik di Ukraina, berpotensi menimbulkan krisis pangan dunia. Kondisi ini menambah kompleksitas tantangan ekonomi yang harus dihadapi oleh banyak negara, termasuk Inggris dan Indonesia.
Pengamat menilai pemerintah Indonesia perlu menerapkan kebijakan adaptif dan diversifikasi geopolitik untuk menghadapi ketidakpastian akibat konflik tersebut. Langkah antisipatif sangat penting untuk meredam dampak guncangan ekonomi global dan melindungi kesejahteraan masyarakat.
Dengan situasi ini, warga Inggris yang awalnya memiliki tabungan sebagai penyangga kini harus menggunakannya untuk menjaga standar hidup di tengah tekanan inflasi dan biaya energi yang tinggi akibat perang AS-Iran. Kondisi ini menjadi peringatan akan dampak luas konflik geopolitik terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat di berbagai negara.














