BONDOWOSO – Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (UNEJ) menggelar workshop peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan di SMK PPN 1 Tegalampel Bondowoso, Jumat (24/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran melalui pendekatan yang lebih inovatif dan berpusat pada peserta didik.

Baca juga:

Workshop yang berlangsung di Aula SMK PPN 1 Tegalampel tersebut diikuti dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNEJ, dosen Fakultas Pertanian, serta guru dan tenaga kependidikan. Selama kegiatan, peserta mendapatkan pembekalan mengenai berbagai strategi pembelajaran yang relevan dengan perkembangan dunia pendidikan saat ini.

Kepala SMK PPN 1 Tegalampel, Sujianto, M.Pd., menyampaikan bahwa kerja sama dengan Universitas Jember memberikan manfaat besar bagi pengembangan kualitas guru maupun peserta didik di sekolah yang berbasis pertanian tersebut.

“Terima kasih banyak atas kerja sama yang dibangun, yang tentu tidak dalam waktu yang sebentar. Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNEJ, bersama dosen Fakultas Pertanian khususnya di bidang hama tanaman yang berkenan membersamai proses penelitian sekaligus pengabdian masyarakat di sekolah kami. Kami merasa bangga, karena kami terpilih menjadi sekolah sasaran dengan penguatan kompetensi guru di bidang bahasa Inggris, dan pertanian. Tak hanya itu, kami juga berterima kasih karena kegiatan ini akan berlanjut dengan penguatan kompetensi Bahasa Inggris bagi murid-murid di SMK PPN 1 Tegalampel. Kami bangga, dan banyak berterima kasih atas peluang kerja sama ini,” ujarnya.

Materi pertama disampaikan oleh Ika Fitriani, S.Pd., M.Pd., yang mengenalkan konsep Self-Access Language Learning (SALL). Menurutnya, pembelajaran bahasa Inggris harus mampu mendorong peserta didik menjadi individu yang mandiri dalam menentukan cara belajar sesuai kebutuhan dan tujuan belajarnya.

Ia menjelaskan bahwa sekolah vokasi membutuhkan pendekatan pembelajaran yang mampu menghubungkan kompetensi bahasa Inggris dengan bidang keahlian siswa. Karena itu, peserta juga diperkenalkan dengan SALLAgri (Self-Access Language Learning for Agriculture) sebagai media belajar mandiri berbasis English for Specific Purposes yang dikembangkan khusus untuk bidang pertanian.

Baca juga:

Dalam sesi refleksi, para guru diajak berdiskusi mengenai pengalaman mengajar, tantangan yang dihadapi di kelas, hingga strategi meningkatkan motivasi belajar siswa agar memiliki semangat belajar sepanjang hayat.

Selanjutnya, Getari Adyagarini, S.Pd., M.Pd., menyampaikan materi mengenai Culturally Responsive Teaching. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan guru memahami karakter, budaya, dan pengalaman belajar peserta didik.

“Melalui pendekatan Culturally Responsive Teaching dan inovasi pembelajaran, tentu tidak hanya terbatas pada device dan technology, melainkan pada meaningful and mindful learning,” ujarnya.

Sesi terakhir menghadirkan Dr. David Imamyartha, S.Pd., M.Pd., yang membahas konsep Deep Learning sebagai pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa memahami materi secara mendalam melalui proses berpikir kritis, analitis, dan kontekstual.

“Pembelajaran mendalam atau deep learning merupakan pendekatan pembelajaran yang bermakna dan berdampak sehingga bisa mendukung terciptanya budaya positif dalam proses pembelajaran,” kata David.

Baca juga:

Sepanjang workshop berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan aktif mengikuti diskusi, berbagi praktik baik, dan mengeksplorasi berbagai pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan di ruang kelas. Kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara akademisi dan praktisi pendidikan dalam menjawab tantangan pembelajaran masa kini.

Melalui workshop ini, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNEJ berharap kemitraan dengan SMK PPN 1 Tegalampel Bondowoso dapat terus berlanjut melalui penelitian, pengabdian, dan pengembangan inovasi pembelajaran. Dengan peningkatan kompetensi guru yang berkelanjutan, sekolah diharapkan mampu menciptakan proses belajar yang adaptif, inspiratif, dan menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan dunia kerja serta perkembangan ilmu pengetahuan.