Media Kampung – Jember – Sebuah inovasi kuliner berbasis ikan tongkol berhasil membawa mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) meraih prestasi di tingkat nasional. Moh Awaidil Fikri, mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi UNEJ asal Bawean, bersama rekannya Mufiddatul Husnah, mengembangkan produk camilan bernama “Koncok-Koncok Nyemils” yang mengangkat makanan tradisional Pulau Bawean. Gagasan ini berhasil meraih Gold Medal sekaligus penghargaan Best Idea dalam ajang Business Plan Edutalk Fair Competition 2026 yang diselenggarakan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro di Semarang pada 30-31 Mei 2026.
Ide awal muncul dari rasa rindu Fikri terhadap kampung halaman dan keinginan memperkenalkan budaya lokal Bawean ke khalayak yang lebih luas. Ia melihat potensi besar pada ikan tongkol sebagai bahan pangan lokal yang tidak hanya lezat tetapi juga kaya protein. Dalam konsep bisnis yang mereka susun, ikan tongkol tidak hanya diposisikan sebagai camilan tradisional, tetapi juga sebagai sumber protein yang berpotensi mendukung upaya pencegahan stunting. Perpaduan antara pelestarian budaya, ketahanan pangan, dan inovasi bisnis menjadi nilai lebih yang ditawarkan.
Perjalanan menuju kesuksesan tidaklah mudah. Di tengah kesibukan perkuliahan, Fikri dan tim harus membagi waktu antara tugas akademik dengan persiapan kompetisi. Mulai dari penyusunan proposal, desain presentasi, hingga pembuatan prototipe produk harus diselesaikan dalam waktu terbatas. “Tantangan terbesar kami adalah mengatur waktu. Banyak persiapan yang harus dilakukan, sehingga kami sering berdiskusi melalui Zoom Meeting dan melanjutkan pekerjaan setelah kuliah selesai. Tidak jarang kami masih bekerja hingga lewat tengah malam,” ujar Fikri.
Pada hari presentasi, kendala teknis sempat muncul ketika alat remote presenter mengalami masalah sehingga menghambat pergantian slide. Namun, tim tetap percaya diri karena penguasaan materi yang matang. Mereka mampu menjelaskan keunggulan produk secara optimal di hadapan dewan juri.
Bagi Fikri, pengalaman ini menjadi ruang belajar yang berbeda dari perkuliahan sehari-hari. Selain menambah wawasan, kompetisi juga membuka kesempatan membangun jejaring dan mengasah kemampuan diri. Ia pun mengajak mahasiswa lain untuk berani mencoba aktivitas di luar kelas. “Jangan menunggu hebat untuk memulai, tapi memulailah untuk menjadi hebat. Jangan takut mencoba, karena kalau tidak mencoba kita tidak akan tahu hasilnya. Kuliah tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga memanfaatkan kesempatan di luar kelas untuk berkembang,” pesannya.
Prestasi ini menambah catatan keberhasilan Fikri sepanjang tahun 2026. Sebelumnya, pada 9 Mei 2026, ia juga meraih juara dalam Festival Esai Mahasiswa Nasional yang digelar di Universitas Wisnuwardhana Malang. Dari sebuah ide sederhana yang berangkat dari kekayaan kuliner Pulau Bawean, Fikri dan Mufiddatul membuktikan bahwa kearifan lokal dapat menjadi sumber inovasi yang mampu bersaing di tingkat nasional. Di tangan generasi muda, warisan budaya tidak hanya dapat dilestarikan, tetapi juga diolah menjadi peluang yang memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan