Media Kampung – Mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) kembali menggelar program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif 3T di Desa Warimak, Distrik Tiplol Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat. Tim yang dipimpin oleh Frenix Putri Ardella, mahasiswa Hubungan Internasional, memperkenalkan konsep mini hilirisasi kepiting bakau.
Program ini mencakup pelatihan budidaya, teknik pengasapan, pelabelan, serta strategi promosi digital. Tujuannya adalah mengubah hasil tangkapan mentah menjadi produk bernilai tambah.
Selama kegiatan, tim menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi yang inklusif dan mudah diikuti warga. SOP tersebut mengatur tahapan mulai dari penangkapan, penyortiran, pengasapan, hingga pengepakan.
Pengasapan dilakukan dengan rumah pengasapan tradisional yang ramah lingkungan. Metode ini telah diuji oleh penduduk setempat dan dinilai efisien.
Para mahasiswa juga membantu warga merancang label produk yang menonjolkan asal daerah dan keaslian rasa. Branding digital dibuat melalui media sosial untuk menjangkau pasar lebih luas.
Frenix menjelaskan, “Kepiting bakau di Warimak biasanya dijual mentah, sehingga nilai ekonominya rendah.” Ia menambahkan bahwa dengan pengolahan, harga jual dapat meningkat dua hingga tiga kali lipat.
Data lapangan menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan petani kepiting hanya Rp 1,2 juta per bulan. Setelah pelatihan, diproyeksikan pendapatan dapat naik menjadi sekitar Rp 3,5 juta.
Tim KKN juga mengidentifikasi tantangan utama, seperti keterbatasan alat tangkap (bubu) dan kurangnya akses pasar terstruktur. Untuk mengatasi hal itu, mereka merencanakan penyediaan peralatan sederhana dan pembentukan jaringan distribusi.
Pelatihan teknis mencakup cara memelihara larva kepiting, menjaga kebersihan kolam, dan mengoptimalkan pakan alami. Materi tersebut disampaikan secara langsung di lapangan dengan contoh praktek.
Selain teknis, mahasiswa memberikan pendampingan dalam manajemen usaha, termasuk pencatatan produksi dan perencanaan keuangan. Hal ini diharapkan meningkatkan keberlanjutan usaha mikro di desa.
Pengembangan branding digital melibatkan pembuatan akun Instagram khusus produk kepiting bakau Warimak. Konten visual menampilkan proses pengasapan dan cerita petani lokal.
Tim juga menyusun materi promosi yang menekankan keunikan rasa asap kayu kelapa. Strategi tersebut menargetkan konsumen di kota-kota besar dan pasar wisata.
Dalam fase evaluasi, warga diminta memberikan umpan balik tentang kualitas produk dan prosedur SOP. Respons yang diterima mayoritas positif, dengan saran perbaikan pada kemasan.
Pembentukan koperasi kecil untuk penjualan kepiting bakau dipertimbangkan guna memudahkan pengumpulan dan distribusi. Koperasi diharapkan menjadi wadah bagi petani untuk bernegosiasi harga yang adil.
Program mini hilirisasi ini selaras dengan kebijakan pemerintah daerah tentang pengembangan ekonomi berbasis sumber daya alam. Dukungan institusional diharapkan memperkuat keberlanjutan proyek.
Selama kunjungan, kepala desa Warimak menyatakan antusiasme tinggi terhadap inisiatif tersebut. Ia menegaskan komitmen desa untuk melanjutkan pelatihan dan memperluas pasar.
Secara keseluruhan, KKN 3T UNEJ berhasil menyiapkan kerangka produksi kepiting bakau yang lebih profesional. Proses tersebut mencakup semua tahap dari hulu hingga hilir dalam skala mikro.
Ke depannya, tim berencana melakukan monitoring rutin dan evaluasi dampak ekonomi. Diharapkan mini hilirisasi kepiting bakau menjadi model bagi desa-desa lain di Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan