Media Kampung, Pemerintah menetapkan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) untuk Juni 2026 sebesar USD 83,45 per barel, turun 21,69% dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai USD 106,56 per barel. Penurunan ini dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Baca juga:

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa tensi konflik yang cenderung mereda sepanjang Juni menjadi faktor utama penurunan ICP. Membaiknya situasi keamanan di kawasan tersebut, termasuk gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap, membuat distribusi minyak global kembali lancar dan menekan harga minyak dunia.

Faktor Fundamental Pasar

Selain faktor geopolitik, kondisi fundamental pasar juga mempengaruhi harga minyak. International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan minyak dunia hanya tumbuh sekitar 1,1 juta barel per hari (bph), sementara kelompok produsen OPEC meningkatkan produksi. Rusia juga berencana menaikkan pasokan untuk memenuhi target produksi OPEC pada 2026. Kombinasi peningkatan pasokan dan perlambatan pertumbuhan permintaan turut menekan harga minyak global.

Baca juga:

Perbandingan Harga Acuan

Rata-rata harga berbagai minyak acuan selama Juni 2026 juga mengalami penurunan. ICP turun USD 23,11 per barel, Brent ICE turun dari USD 103,71 menjadi USD 84,98 per barel, WTI Nymex melemah dari USD 98,51 menjadi USD 82,41 per barel, Dated Brent turun menjadi USD 86,13 per barel, dan Basket OPEC terkoreksi ke USD 91,03 per barel.

Proyeksi Juli 2026

Pemerintah memproyeksikan ICP pada Juli 2026 berada pada kisaran USD 67 hingga USD 71 per barel. Namun, realisasi harga masih bergantung pada perkembangan pasar global dan dinamika geopolitik. Laode menegaskan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan pasar minyak internasional untuk menjaga stabilitas harga dan ketahanan energi nasional. Formula ICP tetap transparan dan mencerminkan dinamika pasar internasional agar akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas.

Baca juga: