Media Kampung, Malang — Penggunaan gawai yang semakin lama membuat masyarakat cenderung kurang bergerak, sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk penyakit jantung. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Dea Ari Kurniawan, mengatakan gaya hidup sedentari atau minim aktivitas fisik menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kasus penyakit jantung, terutama pada kelompok usia produktif.

Baca juga:

“Semakin lama kita duduk dan semakin sedikit aktivitas fisik, metabolisme tubuh menurun. Lemak akan lebih mudah menumpuk dan akhirnya meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah,” jelas dr. Dea kepada RRI, Jumat (17/7/2026).

Dampak Penggunaan Gawai Berlebihan

Menurut dr. Dea, dampak penggunaan gawai tidak hanya berkaitan dengan kurangnya aktivitas fisik. Paparan media sosial yang berlebihan juga dapat memicu stres kronis akibat tekanan psikologis, notifikasi yang terus-menerus, hingga fenomena fear of missing out (FOMO). Kondisi tersebut dapat meningkatkan produksi hormon stres yang berdampak pada naiknya tekanan darah dan dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi kesehatan jantung.

Baca juga:

“Penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Ketika stres berlangsung terus-menerus, kondisi itu ikut berdampak terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah,” ujarnya.

Tips Mencegah Dampak Buruk Screen Time

Sebagai langkah pencegahan, dr. Dea menyarankan masyarakat menerapkan aturan 20-20-20 saat menggunakan gawai. Caranya, setiap 20 menit menatap layar, luangkan waktu 20 detik untuk melihat objek yang berjarak sekitar 20 meter. Ia menambahkan, waktu istirahat tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk berdiri, berjalan ringan, atau melakukan peregangan agar tubuh tetap aktif dan tidak terlalu lama berada dalam posisi duduk.

Baca juga:

“Luangkan waktu untuk bergerak di sela-sela aktivitas menggunakan gawai. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu menjaga metabolisme tubuh sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat gaya hidup sedentari,” tutupnya.