Media Kampung, Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling banyak dialami masyarakat. Yang membuat penyakit ini berbahaya adalah karena sebagian besar penderitanya tidak merasakan gejala apa pun. Kondisi tersebut membuat hipertensi kerap dijuluki sebagai silent killer atau pembunuh senyap karena sering kali baru diketahui saat seseorang memeriksakan tekanan darah ke dokter atau ketika sudah muncul komplikasi serius seperti stroke, serangan jantung, hingga gagal ginjal.
Apa Itu Tekanan Darah?
Tekanan darah terdiri dari dua angka penting, yaitu tekanan sistolik dan diastolik. Angka sistolik (angka atas) menunjukkan tekanan darah saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh, sedangkan angka diastolik (angka bawah) menunjukkan tekanan saat jantung beristirahat di antara denyutannya. Tekanan darah memang dapat berubah sepanjang hari tergantung aktivitas, kondisi tubuh, maupun emosi. Namun, apabila tekanan darah tetap tinggi secara terus-menerus dalam kurun waktu yang cukup lama, umumnya sekitar tiga bulan, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena dapat mengindikasikan hipertensi.
Penyebab Hipertensi
Dilansir dari laman resmi Yayasan Jantung Indonesia (YJI), penyebab hipertensi cukup beragam. Faktor keturunan menjadi salah satu penyebab utama sehingga seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi memiliki risiko lebih besar mengalami kondisi serupa. Selain itu, beberapa penyakit seperti gangguan ginjal atau kelainan pada kelenjar tertentu juga dapat memicu peningkatan tekanan darah. Di sisi lain, gaya hidup yang kurang sehat, seperti mengonsumsi makanan tinggi garam, kurang beraktivitas fisik, kebiasaan mengonsumsi alkohol berlebihan, serta kelebihan berat badan atau obesitas, turut meningkatkan risiko terjadinya hipertensi.
Cara Mencegah dan Mengendalikan Hipertensi
Kabar baiknya, hipertensi dapat dikendalikan melalui pemeriksaan kesehatan secara rutin dan perubahan gaya hidup. Pemeriksaan tekanan darah secara berkala sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko atau telah didiagnosis hipertensi. Bagi pasien yang mengonsumsi obat penurun tekanan darah, pemantauan sebaiknya dilakukan setiap tiga bulan hingga tekanan darah terkendali. Setelah stabil, pemeriksaan dapat dilakukan setiap enam bulan sesuai anjuran dokter. Kepatuhan mengonsumsi obat juga menjadi kunci penting agar tekanan darah tetap berada dalam batas normal dan risiko komplikasi dapat ditekan.
Selain pengobatan, perubahan gaya hidup memiliki peran besar dalam mengontrol tekanan darah. Menjaga berat badan ideal dengan target Indeks Massa Tubuh (IMT) antara 18,5 hingga 22,9 kg/m², memperbanyak konsumsi buah dan sayuran, rutin berolahraga, berhenti merokok, serta membatasi konsumsi alkohol merupakan langkah-langkah sederhana yang terbukti efektif menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Batasi Asupan Garam
Tidak kalah penting, masyarakat juga dianjurkan membatasi asupan natrium atau garam maksimal sekitar 6 gram per hari dengan membiasakan membaca label kandungan gizi pada makanan kemasan. Meski terlihat sepele, konsumsi garam berlebihan menjadi salah satu faktor risiko terbesar penyebab hipertensi. Para pakar kesehatan memperkirakan sekitar 30 persen kasus tekanan darah tinggi berkaitan dengan tingginya asupan garam dalam makanan sehari-hari. Oleh karena itu, meningkatkan kesadaran untuk menerapkan pola makan sehat, rutin memeriksa tekanan darah, dan menjalani gaya hidup aktif menjadi langkah penting agar masyarakat dapat terhindar dari bahaya hipertensi beserta berbagai komplikasi yang mengancam jiwa.























Tinggalkan Balasan