Media Kampung, Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat setelah kedua pihak saling melancarkan serangan untuk malam ketujuh berturut-turut. Militer AS melalui Central Command (CENTCOM) kembali melancarkan serangan udara yang menargetkan infrastruktur militer Iran, sementara Iran mengklaim telah menyerang fasilitas militer AS di Kuwait, Bahrain, Yordania, dan Suriah.
Dalam pernyataan resmi, CENTCOM menyebut serangan itu dirancang untuk terus menurunkan kemampuan militer Iran. Serangan terbaru mencakup target seperti pusat pengawasan, logistik militer, penyimpanan senjata bawah tanah, dan kemampuan maritim di Iran.
Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim bahwa dua kapal tanker minyak meledak setelah mengenai ranjau di Selat Hormuz. Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh CENTCOM yang menyebutnya sebagai informasi palsu seperti kebanyakan klaim IRGC. Pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, kini hampir terhenti total.
Di sisi lain, seorang penasihat militer senior Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, Mohsen Rezaee, memperingatkan bahwa Iran dapat beralih dari serangan balasan ke “invasi dan penghancuran skala penuh” jika AS melanjutkan konflik. Rezaee, yang juga pejabat tinggi IRGC, menyatakan bahwa diplomasi dan negosiasi telah berakhir, dan jika AS melanjutkan perang dalam 2-3 hari ke depan, Iran akan memasuki tahap invasi penuh terhadap musuh.
Iran juga meluncurkan rudal ke negara-negara sekutu AS di kawasan, termasuk Qatar dan Kuwait, yang mengakibatkan kerusakan pada pabrik desalinasi air di Kuwait. Sementara itu, pemerintah Yaman mengutuk serangan Iran terhadap negara-negara Teluk sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda de-eskalasi. Masyarakat internasional khawatir konflik ini dapat meluas menjadi perang regional yang lebih besar.






















Tinggalkan Balasan