Media Kampung, Surabaya — Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kini tidak lagi sekadar agenda memperkenalkan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru. Di Surabaya, MPLS menjadi titik awal membangun kolaborasi antara orang tua, sekolah, guru, dan peserta didik untuk mewujudkan pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter.
Hal tersebut disampaikan M. Isa Ansori, dosen sekaligus DPP Koalisi GIAT Pendidikan Ramah Anak Indonesia, dalam Dialog Jagongan Pro 4 RRI Surabaya, Jumat (17/7/2026). Menurutnya, terdapat perubahan pendekatan dalam pelaksanaan MPLS. Jika sebelumnya orang tua hanya mengantar anak pada hari pertama dan menjemput setelah kegiatan selesai, kini keterlibatan orang tua diperkuat melalui rangkaian seremoni yang menandai dimulainya kerja sama antara keluarga dan sekolah dalam mendidik anak.
“Dinas Pendidikan Kota Surabaya telah menginstruksikan agar pada hari pertama orang tua mengantarkan anak ke sekolah. Kemudian pada penutupan MPLS ada seremoni penyerahan anak dari orang tua kepada pihak sekolah. Maknanya bukan sekadar seremonial, tetapi bentuk kepercayaan bahwa anak dititipkan untuk dididik bersama dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sinergi tersebut menjadi fondasi penting agar anak merasa aman dan nyaman, baik saat di rumah bersama orang tua maupun ketika di sekolah bersama guru. Kondisi psikologis yang positif diyakini menjadi modal awal dalam membangun karakter, budi pekerti, dan semangat belajar peserta didik sejak hari pertama masuk sekolah.
MPLS sebagai Momentum Refleksi Sekolah
Isa menambahkan, MPLS juga menjadi momentum refleksi bagi sekolah untuk mengevaluasi pengalaman penyelenggaraan pendidikan pada tahun-tahun sebelumnya. Evaluasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan kepada peserta didik baru sehingga proses penerimaan dan pendampingan siswa setiap tahun semakin baik.
“MPLS bukan hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi kesempatan bagi guru untuk mengenal murid-murid barunya. Dari proses saling mengenal itulah akan lahir hubungan yang lebih dekat sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara optimal,” katanya.
Menghidupkan Kembali Filosofi Ki Hajar Dewantara
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang memandang sekolah sebagai taman belajar. Sekolah diharapkan mampu menghadirkan suasana yang menyenangkan sehingga peserta didik merasa bahagia, aman, dan antusias dalam menjalani proses belajar.
“Pendidikan harus memanusiakan manusia. Apa pun yang dikerjakan anak perlu dihargai sebagai bagian dari proses tumbuh dan berkembang. Ketika sekolah mampu menciptakan lingkungan yang ramah, nyaman, dan menghargai setiap potensi anak, maka kolaborasi antara orang tua dan tenaga pendidik akan benar-benar terwujud dalam membentuk generasi yang berkarakter,” tutup Isa.























Tinggalkan Balasan