Media Kampung, Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia melakukan aksi korporasi stock split sepanjang tahun ini. Aksi ini tidak semata-mata untuk membuat harga saham terlihat lebih murah, tetapi juga menjadi upaya meningkatkan free float dan likuiditas perdagangan. Dalam konteks tekanan dari MSCI dan kebijakan High Shareholding Concentration (HSC), stock split menjadi salah satu langkah strategis.

Daftar Emiten Stock Split

Berikut jadwal dan rasio stock split tiga emiten yang cum date pada Juli 2026:

Baca juga:
  • PT Rukun Raharja (RAJA) — cum date 15 Juli 2026, rasio 1:5. Harga setelah split Rp885 per saham.
  • PT RMK Energy Tbk (RMKE) — cum date 16 Juli 2026, rasio 1:5. Harga diperkirakan Rp490-Rp500 per saham.
  • PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) — cum date 20 Juli 2026, rasio 1:25. Jumlah saham melonjak dari 1,875 miliar menjadi 46,875 miliar.

Selain itu, ada emiten yang telah menyelesaikan stock split sebelumnya: PT Cyberindo Aditama (CYBR) dengan rasio 1:2 pada 13 Mei 2026, dan PT DSSA Energi (DSSA) dengan rasio 1:25 pada 9 April 2026.

Kinerja dan Valuasi

Dari sisi pergerakan harga, seluruh saham tersebut masih dalam zona kontraksi sejak awal tahun. DSSA menjadi yang terparah dengan penurunan hampir 80%, sementara RAJA paling rendah dengan koreksi sekitar 28%. Secara valuasi, DSSA, RAJA, dan RMKE dinilai sudah cukup masuk akal, sedangkan CYBR dan MLPT masih tergolong mahal meski harga turun tajam.

Baca juga:

Dari profitabilitas kuartal I-2026, RMKE mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih positif. DSSA dan RAJA mampu mempertahankan laba meski pendapatan turun. Sementara CYBR masih merugi, dan MLPT mengalami kontraksi laba hampir 50% secara tahunan.

Narasi Ekspansi

Dua emiten memiliki narasi ekspansi yang menarik: DSSA dan RAJA. DSSA gencar berinvestasi di infrastruktur teknologi, termasuk menambah kepemilikan di PT Bali Media Telekomunikasi senilai Rp8,54 triliun. RAJA agresif membangun ekosistem LNG melalui proyek FLNG di Blok Kasuri, terminal LNG di Banten, serta merambah energi baru terbarukan.

Baca juga:

Strategi Keluar dari Status HSC

Stock split menjadi salah satu cara untuk keluar dari status high shareholding concentration. Regulator memberikan masa transisi dua tahun agar emiten memenuhi ketentuan minimal free float 15%. Namun, keberhasilan stock split tetap bergantung pada partisipasi investor publik dan fundamental perusahaan.

Dari kelima saham tersebut, hanya DSSA, RAJA, dan RMKE yang memiliki valuasi masuk akal. Investor disarankan untuk selektif dan mencermati timing serta narasi korporasi masing-masing emiten.