Media Kampung, Dua saham, yakni PT Cockatoo Indonesia Tbk (COCO) dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), akan melakukan right issue dengan tenggat waktu penyelesaian pada akhir Juli 2026. Right issue merupakan aksi korporasi yang kerap tidak disukai investor ritel karena memaksa pemegang saham mengeluarkan modal tambahan agar kepemilikannya tidak terdilusi.
Dampak dilusi tidak sekadar perubahan angka persentase kepemilikan. Dalam skala right issue jumbo, penyesuaian harga teoritis dapat mengubah keuntungan menjadi floating loss yang signifikan. Semakin besar jumlah saham baru yang diterbitkan dengan harga pelaksanaan jauh di bawah harga pasar, semakin besar penurunan harga teoritis.
Skala Right Issue BNBR dan COCO
BNBR menerbitkan 89,92 miliar lembar saham baru, setara 51 persen dari total lembar saham lama. Rasio right issue sekitar 27 saham lama mendapat 14 saham baru, atau hampir 2:1. Meski tidak jumbo, harga pelaksanaan hanya Rp53 per saham, sedangkan harga terakhir per 7 Juli 2026 sekitar Rp101 per saham. Dengan asumsi harga cum-date Rp101, harga teoritis berada di Rp84 per saham. Investor yang tidak menebus saham baru berpotensi mengalami floating loss 16 persen saat ex-right.
Sementara itu, right issue COCO tergolong jumbo. Jumlah saham baru mencapai 10,68 miliar lembar, sedangkan saham lama hanya 3,56 miliar. Rasio right issue 1:3, artinya setiap satu saham lama berhak memperoleh tiga saham baru dengan harga pelaksanaan Rp120 per saham. Harga pasar terakhir sekitar Rp288 per saham. Harga teoritis dengan asumsi cum-date Rp288 adalah Rp162 per saham. Investor yang tidak menebus saham baru berpotensi mengalami floating loss 43 persen.
Empat Strategi Menghadapi Right Issue
Terdapat empat opsi yang dapat dilakukan investor saat menghadapi right issue: menebus saham baru, hold tanpa menebus, menjual sebelum atau saat cum-date, atau membeli di harga pasar tanpa menebus saham baru.
Menebus saham baru menjadi opsi bijak jika investor memiliki harga rata-rata di atas harga pelaksanaan dan prospek bisnis emiten pasca right issue masih menarik. Hold tanpa menebus dapat dilakukan jika harga rata-rata investor sudah di bawah harga pelaksanaan, sehingga tidak ada penyesuaian harga teoritis.
Menjual saham sebelum atau saat cum-date disarankan jika investor memegang harga di bawah harga pelaksanaan dan harga pasar sudah cukup tinggi. Dengan begitu, floating profit tidak tergerus penyesuaian harga teoritis. Sementara itu, membeli di harga pasar tanpa menebus saham baru bisa menjadi pilihan jika harga pasar lebih rendah dari harga pelaksanaan, dengan catatan prospek bisnis emiten tetap baik.
Analisis lebih mendalam mengenai strategi untuk saham BNBR dan COCO tersedia di Mikirsaham.com.





















Tinggalkan Balasan