Media Kampung – Impor perak China mencapai 836 ton pada Maret 2026, mencatat rekor tertinggi sepanjang masa dan dipicu kombinasi kuat antara minat investor ritel serta kebutuhan industri pembangkit listrik tenaga surya.
Data bea cukai yang dirilis pada 21 April 2026 menunjukkan volume impor perak sebesar 836 ton, hampir tiga kali lipat rata‑rata musiman sepuluh tahun terakhir yang hanya sekitar 306 ton.
Lonjakan pertama berasal dari peningkatan minat investor ritel yang mengalihkan dana ke perak batangan kecil sebagai alternatif emas yang semakin mahal.
Pendorong kedua adalah percepatan produksi panel surya menjelang penghapusan insentif pajak ekspor yang dijadwalkan berlaku pada 1 April 2026.
Industri tenaga surya menyerap kira‑kira 20 persen dari total pasokan perak global, dengan mayoritas produksi panel berlokasi di dalam negeri China.
“Impor yang meningkat pesat ini jelas tidak akan berkelanjutan. Tidak ada ketidakseimbangan permintaan dan penawaran jangka panjang untuk perak, mengingat China adalah produsen perak terbesar di dunia,” kata Zijie Wu dari Jinrui Futures Co.
Permintaan domestik yang tinggi mendorong harga perak di China melampaui harga internasional, menciptakan peluang arbitrase bagi pelaku perdagangan.
Sebagian besar pengiriman perak masuk melalui pelabuhan Hong Kong, memanfaatkan selisih harga antara pasar lokal dan global.
Sementara harga perak global mulai melemah setelah puncaknya pada Januari 2026, dipengaruhi kekhawatiran inflasi akibat krisis energi yang dipicu konflik Iran.
Investor ritel pun mulai mengurangi pembelian seiring penurunan momentum harga, menandakan pelambatan permintaan spekulatif.
Pemerintah China berencana menekan kelebihan kapasitas di sektor tenaga surya, kebijakan ini dapat menurunkan output produksi panel dan mengurangi kebutuhan perak.
Harga perak yang masih tinggi juga dapat mendorong produsen beralih ke logam alternatif yang lebih murah, seperti aluminium atau tembaga, untuk mengurangi biaya produksi.
Para analis memperkirakan lonjakan impor ini bersifat sementara dan akan menurun seiring stabilisasi harga serta penyesuaian kebijakan industri.
Ke depan, pasar perak akan dipantau ketat untuk menilai dampak kebijakan ekspor, perubahan permintaan industri, dan perilaku investor ritel dalam menghadapi volatilitas harga.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan