Media Kampung – Harga bahan bakar minyak di Indonesia masih menjadi sorotan di tengah dinamika geopolitik global yang memengaruhi pasokan energi. Pembahasan dalam St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026 mengindikasikan bahwa harga minyak dunia diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek, yang berpotensi berdampak pada biaya impor energi dan stabilitas harga BBM domestik.

CEO Rosneft Igor Sechin dalam forum tersebut memperkirakan harga minyak akan bertahan di level relatif tinggi seiring lambatnya pemulihan pasokan global. Menurutnya, jika pembatasan terkait konflik di Selat Hormuz dicabut, harga rata-rata minyak dapat mencapai 95-96 dolar AS per barel pada akhir tahun. Namun, pemulihan keseimbangan pasar diperkirakan membutuhkan waktu sekitar enam bulan hingga satu tahun, dengan harga berpotensi turun ke kisaran 80-85 dolar AS per barel pada paruh kedua 2027.

Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak global memiliki dampak langsung terhadap ketahanan energi nasional. Gangguan pada jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz, perubahan rute pasok, dan sanksi terhadap produsen utama dapat meningkatkan biaya impor energi, memicu inflasi, serta memengaruhi daya beli masyarakat dan perencanaan subsidi energi.

Di tengah tekanan tersebut, pemerintah Indonesia terus berupaya mengurangi ketergantungan pada impor BBM. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan pengurangan impor BBM bensin sebesar 8 juta kiloliter pada 2028 melalui program campuran biodiesel. Presiden Prabowo Subianto juga menargetkan swasembada energi pada 2029, dengan optimisme bahwa Indonesia tidak perlu lagi impor BBM dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Salah satu langkah konkret adalah perluasan penggunaan bahan bakar campuran etanol. Mulai semester II 2026, seluruh badan usaha penyedia BBM di Pulau Jawa diwajibkan mencampurkan etanol 5 persen ke dalam bensin nonsubsidi melalui program E5. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan penggunaan energi terbarukan dan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, meskipun masih ada kekhawatiran masyarakat mengenai dampaknya terhadap mesin kendaraan.

Sementara itu, peresmian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada Januari 2026 menjadi tonggak penting dalam upaya mengurangi impor solar. Kilang raksasa ini diharapkan menjadi kunci menuju kemandirian energi dan penghentian impor solar pada tahun ini.

Di sisi lain, Malaysia memilih kebijakan berbeda dengan tetap mempertahankan subsidi BBM dalam jumlah besar untuk menjaga harga tetap terjangkau bagi masyarakat. Perdana Menteri Anwar Ibrahim menyatakan pemerintahnya tidak setuju menaikkan harga BBM meskipun biaya subsidi membengkak akibat kenaikan harga minyak dunia. Dana subsidi diperoleh melalui penghematan anggaran dan penekanan kebocoran keuangan negara, tanpa menambah utang.

Dengan berbagai tantangan dan langkah strategis yang diambil, prospek harga bahan bakar minyak di Indonesia ke depan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak global, keberhasilan program energi terbarukan, serta kemampuan pemerintah dalam mengelola subsidi dan menjaga stabilitas ekonomi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.