Media Kampung, Jakarta — Sutradara Christopher Nolan tidak ambil pusing dengan gelombang protes yang membanjiri media sosial soal karya terbarunya, The Odyssey. Film yang diadaptasi dari epik Yunani karya Homer ini memicu kritik dari berbagai pihak, mulai dari Elon Musk hingga pakar sejarah.
Kritik itu mempertanyakan pilihan jajaran pemain bertabur bintang, desain baju perang yang dianggap tidak akurat, hingga penggunaan aksen Amerika dan dialog bahasa Inggris modern. Namun, bagi Nolan, kebisingan di media sosial adalah hal yang lumrah dalam industri film.
“Hal seperti ini sudah biasa terjadi (dalam pekerjaan ini),” kata Nolan dalam wawancaranya dengan The Telegraph. “Tapi lihat, obrolan itu biasanya terjadi sebelum mereka menonton filmnya dan itu selalu tidak relevan, karena tidak ada satu pun dari mereka yang tahu seperti apa film itu sebenarnya.”
Pengalaman Nolan dengan Batman
Sejak awal, Nolan sudah memprediksi bahwa menggarap The Odyssey akan memicu perdebatan sengit. Ia mengaku sudah sangat berpengalaman dalam menghadapi kemarahan publik sebelum sebuah film dirilis.
“Ingat, saya menghabiskan 10 tahun berurusan dengan Batman. Saat saya memulai Batman Begins, para penulis dan seniman telah mengerjakan karakter ini selama hampir 65 tahun, dan ada banyak sekali kritik di luar sana soal karakter tersebut,” kenang Nolan.
Dari pengalaman Batman, Nolan memetik pelajaran bagaimana menghadapi tekanan penggemar. “Apa yang saya pelajari, yaitu Anda tidak boleh mengkhawatirkan hal itu sama sekali. Yang harus Anda lakukan adalah menghormati naskah aslinya dengan menafsirkannya dengan baik,” ucap Nolan.
Kritik dari Elon Musk dan Matt Walsh
Beberapa bulan belakangan, film The Odyssey banjir kritik terutama dari Elon Musk. Melalui media sosial, Musk menyerang Nolan setelah aktris Lupita Nyong’o akan memerankan sosok Helen of Troy, yang dalam mitologi Yunani dikenal sebagai wanita tercantik di dunia. Musk berkomentar pedas dengan menulis “Chris Nolan telah kehilangan integritasnya.”
Kritik pedas juga datang dari komentator Matt Walsh, yang menghina pemilihan Nyong’o. “Tidak ada satu orang pun di planet ini yang benar-benar berpikir bahwa Lupita Nyong’o adalah ‘wanita tercantik di dunia’. Tapi Nolan tahu dia akan disebut rasis jika memberikan peran itu kepada wanita kulit putih. Nolan secara teknis berbakat, tetapi dia seorang pengecut,” tulis Walsh di platform X.
Nolan Teguh pada Visinya
Nolan menjawab kritik itu dengan berpegang pada visinya. Baginya, setiap sutradara punya cara berbeda dalam menerjemahkan sebuah cerita klasik. “Ini sangat berbeda dari bagaimana yang orang buat, tapi itulah inti dari sebuah adaptasi,” tutup Nolan.
Nolan menegaskan, sebuah adaptasi adalah soal kejujuran dalam berkarya. Ia yakin penonton pada akhirnya akan menghargai kerja keras tersebut. “Pada akhirnya, para penggemar akan menikmati ketulusan upaya kami untuk menampilkan versi terbaik yang kami bisa di layar. Yang bisa saya lakukan hanyalah membuat film terbaik dengan cara yang paling tulus,” ucap Nolan.























Tinggalkan Balasan