Media Kampung, Sibolga — Taratintin, permainan tradisional masyarakat pesisir Sibolga, kini mulai jarang dimainkan di tengah maraknya gim digital. Padahal, permainan ini menyimpan nilai-nilai kebersamaan dan pembentukan karakter yang penting bagi generasi muda.

Taratintin dimainkan secara berkelompok di halaman rumah, lapangan, atau ruang terbuka lainnya. Cara bermainnya diawali dengan menentukan satu orang sebagai penjaga. Penjaga berdiri menghadap pohon atau dinding, menutup mata, dan menghitung dari 10 hingga 100 dengan kelipatan sepuluh: 10, 20, 30, … hingga 100. Selama hitungan, pemain lain berlari mencari tempat persembunyian. Setelah hitungan selesai, penjaga mencari pemain yang bersembunyi. Pemain yang ditemukan akan bergantian menjadi penjaga pada putaran berikutnya.

Baca juga:

Nilai Budaya dan Pendidikan Karakter

Amar Khan Sikumbang, pegiat budaya Sibolga, mengatakan bahwa Taratintin bukan sekadar permainan pengisi waktu luang. “Taratintin menjadi media pembelajaran yang membentuk karakter anak sejak usia dini,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (16/7/2026).

Baca juga:

Menurut Amar, permainan ini mengajarkan sportivitas, kerja sama, keberanian, ketangkasan, dan kemampuan menyusun strategi. Nilai-nilai tersebut penting dalam membentuk sikap sosial dan tanggung jawab di tengah kehidupan bermasyarakat.

Baca juga:

Upaya Pelestarian

Amar menambahkan, pelestarian Taratintin perlu mendapat dukungan dari keluarga, sekolah, dan pemerintah daerah. Pengenalan kembali dapat dilakukan melalui kegiatan budaya, perlombaan, atau aktivitas di lingkungan pendidikan. “Dengan terus melestarikan Taratintin, generasi muda tidak hanya mengenal permainan modern, tetapi juga memahami nilai budaya yang diwariskan leluhur,” tutupnya.