Media Kampung, Washington, D.C. — Amerika Serikat (AS) meluncurkan dua gelombang serangan terhadap sistem pertahanan dan situs rudal Iran pada Rabu, 17 Juli 2026. Serangan ini merupakan eskalasi terbaru dalam ketegangan antara kedua negara yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran pada pekan lalu.

Komando Pusat AS menyatakan bahwa gelombang pertama menghantam sistem pertahanan dan situs rudal jelajah milik Iran di Kepulauan Greater Tunb pada Rabu pagi. Sembilan jam kemudian, gelombang kedua dilancarkan dan menyasar sejumlah kota di Iran, termasuk pusat komando, situs pertahanan udara, rudal, kemampuan drone, serta fasilitas intelijen pantai.

Baca juga:

Target Serangan

Serangan juga menghantam Kota Bandar Abbas, yang menjadi lokasi pelabuhan terbesar di Iran dan tempat sejumlah fasilitas penting milik Garda Revolusi Iran (IRGC) di kawasan Selat Hormuz. Menurut pernyataan resmi Komando Pusat AS, target dipilih untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran yang mengancam keamanan regional.

Balasan Iran

Merespons serangan AS, IRGC menyatakan bahwa serangan balasannya berhasil menghantam fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Khusus di Kuwait, Iran mengeklaim sistem radar AS di Pangkalan Udara Ali Al Salem berhasil dihantam. Klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Baca juga:

Konteks Ketegangan

Ketegangan antara AS dan Iran meningkat setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu pekan lalu. Penutupan jalur vital pelayaran ini menyebabkan lonjakan harga minyak mentah dunia, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak global. Sebelumnya, AS juga memberlakukan blokade terhadap kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran, yang memicu respons keras dari Teheran.

Serangan ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik berkepanjangan antara kedua negara. Masyarakat internasional kini mengamati perkembangan selanjutnya, termasuk kemungkinan dampak terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan pasokan energi global.

Baca juga: