Media Kampung – 15 April 2026 | Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, menegaskan kembali keyakinannya bahwa perubahan rezim di Iran dapat dicapai melalui operasi intelijen. Namun, hasil terbaru menunjukkan kegagalan prediksi Mossad mengenai keruntuhan cepat Tehran.
Roman Gofman ditunjuk sebagai Direktur Mossad baru menggantikan David Barnea, yang sebelumnya memimpin badan intelijen tersebut selama lima tahun. Penunjukan Gofman dijadwalkan resmi pada bulan Juni 2026 dan akan berlangsung selama lima tahun.
Barnea sebelumnya mendukung rencana serangan gabungan bersama Amerika Serikat pada akhir Februari 2026, yang menargetkan tokoh-tokoh kunci di Iran. Strategi tersebut berfokus pada pembunuhan figur-figur penting serta operasi intelijen berskala besar.
Setelah penunjukan Gofman, Netanyahu melakukan restrukturisasi total atas pimpinan keamanan Israel, termasuk militer dan intelijen. Langkah tersebut dimaksudkan untuk memperkuat posisi politiknya setelah konflik berskala regional.
Mossad pernah menyatakan bahwa serangan militer akan segera mengakhiri kekuasaan rezim Iran. Pernyataan itu kemudian terbantahkan ketika setelah 40 hari pertempuran intensif, tidak terlihat tanda-tanda kejatuhan pemerintahan Tehran.
Seorang sumber keamanan Israel yang diwawancarai oleh CNN mengungkapkan, “Posisi Mossad adalah bahwa perubahan rezim adalah hasil yang mungkin terjadi dan mereka dapat mewujudkannya.” Kutipan tersebut mencerminkan optimisme yang kini dianggap keliru oleh kalangan militer.
Pihak militer Israel, khususnya IDF, menyatakan pandangan yang lebih skeptis dan berhati-hati. Mereka menyarankan langkah pelemahan sistematis daripada mengandalkan revolusi instan yang sulit diukur.
Seorang perwira IDF menegaskan, “Mossad membuat serangkaian janji yang tidak ditepati,” menyoroti kesenjangan antara harapan intelijen dan realitas lapangan. Pernyataan ini menambah tekanan pada kepemimpinan Mossad baru.
Kematian Ayatollah Ali Khamenei pada gelombang serangan pertama tidak menggoyahkan struktur pemerintahan Iran. Pemerintah Tehran tetap berfungsi dengan stabil, menolak spekulasi mengenai runtuhnya rezim.
Netanyahu tetap mengklaim bahwa Iran akan kehilangan kemampuan untuk melancarkan serangan nuklir dalam waktu dekat. Klaim tersebut dipublikasikan melalui konferensi pers di Istana Kedutaan Besar di Tel Aviv.
Selain fokus pada Iran, Netanyahu juga menyoroti hubungan bilateral dengan Viktor Orban, Perdana Menteri Hungaria. Ia memuji Orban sebagai “teman sejati Israel” meskipun Orban kalah dalam pemilu Hungaria baru-baru ini.
Dalam pernyataan yang dilaporkan oleh DPA International, Netanyahu menyebut Orban berani membela tentara Israel melawan terorisme. Ia menambahkan, “Orban adalah teman sejati Israel yang sudah berdiri tegak dalam membela negara kami. “
Netanyahu juga menyampaikan selamat kepada Peter Magyar, calon perdana menteri Hungaria yang diperkirakan menang. Ia berharap hubungan bilateral tetap kuat di bawah kepemimpinan baru.
Magyar berjanji akan mengembalikan keanggotaan Hungaria dalam Mahkamah Kriminal Internasional (ICC). Keputusan tersebut menandai pergeseran kebijakan luar negeri Hungaria yang sebelumnya menolak ICC.
Langkah Netanyahu memuji Orban dan Magyar mencerminkan strategi diplomatik Israel untuk memperkuat aliansi di Eropa tengah. Aliansi tersebut dipandang penting dalam konteks tekanan internasional terhadap kebijakan Israel di Gaza.
Sementara itu, intelijen Israel terus memantau situasi di Iran dengan menggunakan satelit, drone, dan jaringan manusia. Data terbaru menunjukkan bahwa jaringan pertahanan udara Iran masih beroperasi secara penuh.
Analisis militer menilai bahwa Iran masih memiliki kemampuan balasan balistik yang signifikan. Oleh karena itu, Netanyahu menginstruksikan IDF untuk meningkatkan kesiapan pertahanan di perbatasan utara Israel.
Dalam rapat keamanan mingguan, Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan mengabaikan ancaman dari Iran, meskipun operasi Mossad belum menghasilkan perubahan politik di Tehran. Ia menambahkan, “Kami akan terus mengevaluasi semua opsi, termasuk diplomasi dan tekanan ekonomi. “
Para pengamat regional mencatat bahwa kebijakan Netanyahu kini lebih berfokus pada menggalang dukungan internasional daripada mengandalkan operasi rahasia. Mereka menilai bahwa legitimasi global menjadi faktor kunci dalam menghadapi Iran.
Sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman dan Prancis, menyuarakan keprihatinan atas eskalasi militer di kawasan. Namun, Israel tetap menegaskan haknya untuk melindungi keamanan nasional.
Netanyahu juga menanggapi kritik domestik yang menyoroti biaya perang dan dampak sosial. Ia menegaskan bahwa keamanan negara tidak dapat ditawar dengan kompromi politik.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia melaporkan peningkatan korban sipil di wilayah konflik. Pemerintah Israel menolak tuduhan pelanggaran hukum humaniter, menyatakan operasi militer bersifat proporsional.
Kondisi terbaru pada 15 April 2026 menunjukkan bahwa pertempuran di wilayah perbatasan tetap berlanjut tanpa tanda-tanda penyelesaian. Kedua belah pihak melaporkan serangan sporadis dan pertukaran tembakan.
Netanyahu menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen Israel untuk melindungi warga negaranya. Ia menambahkan, “Kami akan terus berjuang demi keamanan dan masa depan Israel yang stabil. “
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan