Media Kampung, Meulaboh — Usaha menjual sirih di Kabupaten Aceh Barat masih menjadi mata pencaharian yang menjanjikan. Tingginya permintaan masyarakat untuk konsumsi maupun keperluan adat membuat sejumlah pedagang mampu meraih omzet hingga Rp500 ribu per hari.
Cut Melayani, penjual sirih di Gampong Suak Raya, Kecamatan Johan Pahlawan, mengaku dalam sehari mampu membukukan penjualan sekitar Rp300 ribu. Namun, permintaan yang tinggi belum sepenuhnya terpenuhi karena ia bekerja sendiri. “Alhamdulillah, penjualan bisa mencapai sekitar Rp300 ribu per hari. Tetapi saya bekerja sendiri sehingga terkadang belum mampu melayani seluruh permintaan pelanggan,” ujarnya, Sabtu, 11 Juli 2026.
Hal serupa diungkapkan Aishah, pedagang sirih di kawasan Simpang KB, Gampong Drien Rampak. Omzet penjualannya dapat mencapai Rp500 ribu bahkan lebih setiap hari, terutama saat permintaan meningkat. Meski demikian, ketersediaan bahan baku seperti daun sirih dan buah pinang masih menjadi kendala utama. “Kadang-kadang pembeli datang cukup banyak, tetapi stok daun sirih atau pinang sedang habis sehingga tidak semua permintaan bisa kami layani,” katanya.
Salah seorang warga, Abu Rangkileh, mengaku pernah kesulitan mendapatkan sirih saat membutuhkannya, baik untuk konsumsi pribadi maupun keperluan adat seperti penyambutan linto baro. Ia berharap para pedagang sirih terus mengembangkan usahanya. “Usaha ini sangat menjanjikan. Kalau dikelola dengan baik dan pasokan bahan baku tersedia, pendapatannya bisa sangat membantu perekonomian keluarga,” ujarnya.
Selain sebagai komoditas konsumsi, sirih memiliki nilai budaya yang kuat di Aceh. Tradisi menghidangkan sirih masih dijumpai dalam berbagai kegiatan adat dan acara seremonial, sehingga permintaan terhadap komoditas tersebut tetap terjaga dan menjadi peluang usaha yang terus diminati.






















Tinggalkan Balasan