Media KampungPeternak ayam petelur skala rakyat di Desa Ploso, Kecamatan Kendal, Ngawi, terpaksa melakukan penjualan dini telur untuk mengantisipasi kerugian. Langkah ini ditempuh akibat beban biaya pakan yang meroket tajam, sementara harga telur di pasar justru jatuh.

Kenaikan Harga Pakan dan Penurunan Harga Telur

Sumarno, seorang peternak mandiri, mengungkapkan bahwa harga pakan konsentrat naik menjadi Rp455.000 per sak dari sebelumnya Rp408.000 per sak. Selain itu, harga komponen lokal seperti jagung dan katul juga ikut naik, ditambah pengeluaran untuk suplemen obat-obatan unggas. Sementara itu, harga telur saat ini hanya Rp18.500 per kilogram dan sulit dijual. Akibatnya, Sumarno terpaksa memangkas populasi ayamnya hingga 60 persen, dari 3.000 ekor menjadi sekitar 1.000 ekor.

Krisis Kolektif di Tingkat Kelompok

Ketua Kelompok Unggas Mandiri Desa Ploso, Rokhim, mengonfirmasi bahwa kondisi ini bukan hanya dialami individu, melainkan krisis kolektif. Dari total 43 peternak rakyat, tingkat okupansi kandang menurun drastis. Sebelumnya, rata-rata keterisian kandang mencapai 90 persen, kini hanya berkisar 60 hingga 70 persen. Hal ini menunjukkan bahwa banyak peternak mengurangi populasi ayam mereka.

Strategi Jemput Bola ke Luar Daerah

Untuk menyiasati kebuntuan distribusi di pasar lokal, kelompok peternak melakukan strategi jemput bola dengan mengirim telur langsung ke konsumen di Yogyakarta, Kaliurang, dan Bantul. Meskipun margin keuntungan sangat tipis, langkah ini diambil demi kelangsungan modal untuk membeli pakan esok hari.

Dengan penjualan dini dan pengiriman langsung ke luar daerah, para peternak berharap dapat bertahan di tengah krisis yang melanda industri peternakan ayam petelur rakyat.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.