Media Kampung – Jemaah haji Indonesia di Makkah diimbau untuk selalu menerapkan buddy system atau sistem pendamping saat menjalankan ibadah dan aktivitas. Hal ini disampaikan sebagai upaya mencegah kejahatan yang dapat timbul akibat ketidaktahuan bahasa, lingkungan, dan kerumunan besar jamaah dari berbagai negara.

Kepala Seksi Perlindungan Jemaah Daerah Makkah, Tulus Widodo, menegaskan bahwa kejahatan sering muncul karena adanya kesempatan. Oleh sebab itu, ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan meskipun kondisi keamanan di Arab Saudi relatif terjaga. Tulus menekankan bahwa langkah pencegahan harus lebih diperketat terutama bagi para jemaah lansia yang rentan menjadi sasaran.

Dalam upaya pencegahan, Tulus memberi contoh saat menggunakan jasa taksi di Makkah. Ia mengingatkan agar jemaah memastikan taksi yang akan dinaiki adalah kendaraan resmi yang memiliki tanda warna hijau dan putih. Selain itu, ia menyarankan jemaah untuk selalu bepergian bersama minimal tiga orang dan menghindari perjalanan sendiri guna mengurangi risiko kejahatan.

Selain itu, Tulus membagikan tips keamanan saat naik taksi, yakni dengan memfoto terlebih dahulu nomor plat kendaraan sebelum masuk. Ia juga menjelaskan aturan naik turun taksi yang aman, yaitu penumpang laki-laki sebaiknya naik terlebih dahulu, sedangkan saat turun, penumpang perempuan didahulukan. Langkah-langkah ini dianggap penting untuk meningkatkan keamanan selama perjalanan di Makkah.

Dengan menerapkan buddy system dan mengikuti panduan keamanan tersebut, diharapkan jemaah haji Indonesia dapat terhindar dari tindakan kriminal selama berada di tanah suci. Tulus Widodo menegaskan bahwa protokol keamanan ini wajib dipatuhi sebagai bagian dari perlindungan jemaah selama menunaikan ibadah haji di Arab Saudi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.