Media Kampung – Sodiyah Syukur, petani berusia 86 tahun asal Kutowinangun, Kebumen, tiba di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah, pada Rabu 6 Mei pukul 09.30 waktu Arab Saudi bersama rombongan haji Yogyakarta.
Ia menempuh perjalanan dengan kursi roda, namun senyumannya tetap menyinari sekitar meski usia tak lagi muda.
Sodiyah menghabiskan puluhan tahun mengolah tanah desa, menabung sedikit demi sedikit dari hasil pertanian untuk menyiapkan dana haji.
Putrinya mengingat, “Sehari-hari ibu bertani. Dari situlah beliau menabung sedikit demi sedikit.”
Ketika tabungan belum mencukupi, ia memutuskan menjual “emas ireng“, istilah Jawa untuk pekarangan atau tanah yang menjadi aset terpenting petani.
“Emasnya orang desa itu ya tanah, bukan perhiasan,” tegas sang putri menegaskan nilai budaya tanah bagi masyarakat pedesaan.
Tanah yang dijual adalah hasil jerih payahnya selama bertahun‑tahun, namun ia menilai panggilan haji lebih berharga daripada aset material.
Suami Sodiyah yang semula terdaftar untuk haji meninggal dunia di tengah penantian selama 14 tahun, meninggalkan ia harus menunaikan ibadah sendirian.
Dengan dukungan putri keempatnya yang menggantikan peran suami, Sodiyah berangkat ke Tanah Suci, menandai akhir penantian panjang.
Saat ini ia berada di Madinah, bersiap melaksanakan ibadah haji dan menjemput Baitullah, menutup lembaran perjuangan hidup yang penuh kesabaran.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan