Media Kampung – Ayah Bunga Zainal meninggal dunia pada Selasa, 5 Mei 2026 setelah berjuang melawan kanker sejak 2022, dan pemakaman dilaksanakan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan pada Rabu, 6 Mei 2026.
Bunga Zainal, aktris berusia 39 tahun, mengungkapkan rasa ikhlasnya setelah sang ayah, Sapuri Husin, menghembuskan napas terakhir dikelilingi oleh seluruh anaknya serta ibunya. “Alhamdulillah Papa sudah nggak sakit lagi, Bismillah, ikhlasin aja,” ujar Bunga dalam wawancara di lokasi pemakaman, sebagaimana dilaporkan oleh mediakampung.com.
Beberapa hari sebelum kematian ayahnya, Bunga mengalami gejala fisik yang tidak biasa, termasuk gatal menyeluruh dan insomnia. Ia menyampaikan rasa gelisahnya melalui pesan singkat kepada kakak‑kakaknya, menambahkan bahwa firasat buruk semakin kuat pada malam sebelum kejadian. “Malam‑malam nggak bisa tidur, badan aku tuh kayak gatal banget dari ujung kepala sampai ujung kaki,” katanya.
Pada hari Selasa, kakak ketiga Bunga menghubungi dan memberi kabar bahwa sang ayah sedang menunggu kedatangan putrinya di rumah. Bunga pun pulang lebih awal, menghabiskan waktu berbincang dengan ayahnya hingga detik‑detik terakhir. “Jam 11 kakak aku yang nomor tiga kontak aku, kasih tahu kalau papa pengen ketemu, kayak nungguin aku pulang. Jadi ya udah aku datang pulang, cukup banyak ngobrol,” jelasnya.
Setelah ayahnya wafat, seluruh anak Bunga—tiga bersaudara—bersatu di TPU Tanah Kusir untuk melaksanakan prosesi pemakaman. Kehadiran mereka tidak hanya menjadi dukungan emosional bagi Bunga, tetapi juga menghormati keinginan almarhum yang selama ini didukung oleh sang ibu. Ibu Bunga, yang sebelumnya telah menyiapkan makam pasangan suaminya, menegaskan bahwa ia ingin dimakamkan bersebelahan dengan suaminya agar tetap bersatu hingga akhir hayat.
“Dulu tuh Mama sudah menyiapkan sendiri kuburannya dan maunya bersebelahan nanti sama Papa,” kata Bunga mengutip pernyataan ibunya saat pemakaman. Keputusan tersebut disetujui oleh semua anak, yang menyatakan bahwa menghormati keinginan orang tua merupakan prioritas utama. “Jadi keluarga sih ya nurut saja sama mama, maunya yang paling dekat sama papa kan pastinya mama,” ujar Bunga.
Proses pemakaman berlangsung sederhana namun sarat makna. Jenazah Sapuri dibawa ke TPU Tanah Kusir menggunakan mobil jenazah, dan keluarga menuruni tanah bersama doa-doa serta ucapan selamat tinggal. Media melaporkan bahwa suasana hening namun penuh kehangatan, mencerminkan kedamaian yang dirasakan oleh keluarga setelah melepas sang ayah.
Setelah pemakaman, Bunga menyampaikan rasa terima kasih kepada saudara‑saudaranya yang memberikan ruang dan waktu untuk berbicara dengan ayahnya. “Aku bersyukur kakak‑kakak dan Ibuku kasih space banget buat aku ngobrol sama Papa. Begitu aku ikhlasi, dia langsung pergi,” tuturnya dengan mata berkaca‑kaca.
Kasus kematian Sapuri menegaskan pentingnya dukungan keluarga dalam proses akhir hayat, terutama ketika penderita telah lama berjuang melawan penyakit kronis. Keluarga Zainal mencontohkan bagaimana kepedulian, komunikasi terbuka, dan penghormatan terhadap keinginan almarhum dapat menciptakan momen perpisahan yang damai.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan