Media Kampung, Kediri — Meskipun kuliner modern kian marak, aneka jenis ikan asin masih menjadi primadona warga Kediri, Jawa Timur. Di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Setono Betek dan Pasar Pahing, lapak pedagang ikan asin tak pernah sepi pembeli.

Berbagai jenis ikan asin seperti peda, cucut, teri medan, jambal roti, sepat, layur, hingga pindang selalu laris setiap hari. Setiap varian memiliki penggemar sesuai selera masing-masing.

“Kalau orang Kediri menyebut ikan asin dengan istilah iwak gereh. Kalau suka ikan asin ukuran kecil biasanya yang dicari teri, kalau agak besar lagi ada pindang, sepat, atau layur. Tergantung selera,” kata Uswatun Hasanah, pedagang ikan asin di Pasar Pahing, Kota Kediri, Minggu (12/7/2026).

Faktor Ketahanan Ikan Asin

Menurut Uswatun, bertahannya tren konsumsi ikan asin di Kediri dipicu beberapa faktor. “Yang pasti harganya ramah di kantong untuk semua kalangan masyarakat. Selain itu, tahan lama dan bisa disimpan tanpa harus dimasukkan kulkas,” ujarnya.

Aroma khas ikan asin, apapun jenisnya, terbukti ampuh membangkitkan selera makan sehingga keberadaannya lestari lintas generasi.

Cara Menikmati Ikan Asin ala Warga Kediri

Warga Kediri memiliki cara tersendiri menikmati hidangan ikan asin, yaitu dengan menyantapnya bersama menu utama seperti sambal tumpang, sayur lodeh pedas, atau nasi ampok (jagung).

Sejarah Panjang Konsumsi Ikan Asin

Secara historis, olahan ikan asin sudah dikonsumsi masyarakat Nusantara sejak zaman Mataram Kuno sekitar abad ke-9 atau ke-10 Masehi. Dalam dunia kuliner tradisional, menu legendaris ini termasuk yang paling banyak diminati berbagai strata dan segmentasi usia.

“Kalau saya sudah langganan beli ikan asin peda dan sepat. Suami suka tekstur peda yang dagingnya basah, kenyal, gurih. Kalau anak-anak lebih suka sepat karena tipis, garing, renyah. Seringnya dimakan pakai sayur asem dan sambal terasi,” ucap Ika Mardiana, warga Perumahan Permata Hijau, Kota Kediri.