Media KampungPak Olif telah mengayuh becak sebagai profesinya selama hampir empat puluh tahun di Jember. Meskipun transportasi modern semakin berkembang, ia tetap setia menjalani rutinitasnya menarik becak demi menghidupi keluarga.

Pria asal Kencong ini memulai pekerjaannya sejak 1986 dan hingga kini tetap berjuang mencari penumpang setiap hari. Penghasilan yang didapatnya tidak menentu, terkadang mendapat penumpang dan di waktu lain harus rela tidak memperoleh penghasilan sama sekali.

Pak Olif tinggal di sebuah rumah sederhana di Pelindu, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari. Di sana, sang istri selalu menunggu kepulangannya dengan penuh kesabaran dan tulus menerima hasil kerja suaminya, sekecil apapun itu.

Dalam menjalani hidup yang sederhana, Pak Olif mengungkapkan bahwa keluarganya menjadi sumber kekuatan utama untuk tetap bertahan. Ia mengatakan, “Istri saya nunggu di rumah, rejeki dicukupin.” Kalimat itu menggambarkan sikap pasrah namun tegar yang melekat pada dirinya.

Menanggapi sepinya penumpang akibat persaingan dengan transportasi berbasis aplikasi, Pak Olif tidak menyerah. Baginya, membawa pulang rezeki, walau sedikit, adalah hal yang paling penting. Ia menyatakan, “Cukup gak cukup kudu cukup, mbak penting saget makan.” Pernyataan ini menegaskan keikhlasan dan keteguhan hatinya dalam menjalani profesi tersebut.

Meski pernah menerima bantuan pemerintah di masa lalu, saat ini Pak Olif mengaku belum mendapatkan bantuan apapun. Namun, ia memilih untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut dan tidak mengeluh. Saat ditanya keinginan menerima bantuan, jawabannya sederhana, “Enggeh kepengen, tapi gimana cara,” yang sekaligus mengungkapkan ketidaktahuannya tentang prosedur pengajuan bantuan.

Perjalanan panjang Pak Olif mengayuh becak sejak 1986 menjadi cermin perjuangan pekerja keras yang tak mudah menyerah. Becak yang ditariknya bukan hanya alat mencari nafkah, tapi juga saksi perjalanan hidup penuh liku dan tantangan di tengah perkembangan zaman.

Di usia yang tidak muda lagi, Pak Olif tetap melanjutkan aktivitasnya dengan harapan sederhana, yakni selalu bisa pulang membawa rezeki untuk keluarganya. Kesederhanaan dan keteguhan hati Pak Olif menjadi inspirasi nyata tentang arti perjuangan tanpa keluh kesah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.