Media Kampung – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso mulai mendistribusikan air bersih ke sejumlah desa yang dilanda kekeringan. Pada awal pekan ini, Desa Klekan di Kecamatan Botolinggo menjadi lokasi pertama yang menerima suplai air bersih sejak Senin, 11 Mei 2026. Distribusi berlanjut ke Desa Lumutan di kecamatan yang sama pada hari berikutnya, Selasa, 12 Mei 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, menjelaskan bahwa setiap titik distribusi menerima 10 ribu liter air yang diangkut menggunakan dua truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter. “Masing-masing titik kita salurkan 10 ribu liter,” ujar Kristianto saat dikonfirmasi pada Selasa, 12 Mei 2026.
Penyaluran air bersih ini merupakan respons atas kekeringan yang melanda 20 dusun di 13 desa pada sembilan kecamatan di Bondowoso. Wilayah terdampak antara lain Kecamatan Maesan, Klabang, Prajekan, Wringin, Tegalampel, Botolinggo, Tamankrocok, Curahdami, dan Tlogosari. Langkah BPBD ini mengacu pada Surat Keputusan (SK) Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan yang dikeluarkan untuk tahun 2026.
Pemetaan wilayah serta identifikasi jumlah kepala keluarga terdampak dilakukan berdasarkan hasil kajian lapangan. Berdasarkan SK tersebut, kekeringan kali ini mempengaruhi 1.784 kepala keluarga atau sekitar 7.136 penduduk. Angka tersebut menurun dibandingkan tahun lalu yang mencapai sekitar 4.000 kepala keluarga di 12 kecamatan.
Kristianto menuturkan, penurunan jumlah wilayah dan penduduk terdampak tidak lepas dari sejumlah upaya pencegahan, seperti pembangunan sumur bor, perlindungan sumber mata air, dan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang dilakukan oleh pemerintah daerah, PMI, dan berbagai yayasan. “Harapannya dengan intervensi itu bisa mengurangi jumlah wilayah kekeringan,” jelasnya.
Meski bantuan air bersih mulai tersalurkan, BPBD Bondowoso menghadapi tantangan terbatasnya anggaran. Dana yang tersedia di APBD saat ini hanya cukup untuk penyaluran selama 30 hari ke depan. Padahal, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau akan berlangsung hingga tujuh bulan ke depan. Kenaikan harga BBM nonsubsidi menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya jumlah distribusi air yang semula direncanakan hingga 40 kali pengiriman, kini hanya mampu dilakukan 30 kali.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, BPBD Bondowoso telah mengajukan tambahan alokasi dana ke BPBD Provinsi. Selain itu, koordinasi dilakukan dengan PMI dan yayasan sosial lain agar distribusi air bersih bisa tetap berlanjut selama masa kemarau berlangsung. Hingga kini, distribusi air bersih terus berjalan ke desa-desa terdampak kekeringan, dengan harapan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi meski menghadapi musim kemarau berkepanjangan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan