Media Kampung, Denpasar — Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa Bali harus mandiri energi dan tidak bergantung pada pasokan dari luar daerah. Hal itu disampaikannya dalam Focus Group Discussion (FGD) Implementasi Penataan Ruang Laut Berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) di Denpasar, Kamis (9/7/2026).

Menurut Koster, ketergantungan energi dari luar sangat riskan bagi Bali yang merupakan destinasi wisata utama dunia. Apalagi, konsumsi energi di Bali terus meningkat setiap tahun akibat pertumbuhan industri dan pariwisata.

Saat ini, kebutuhan listrik Bali mencapai 1.300–1.400 MW, dan sekitar 400 MW masih dipasok dari PLTU Paiton di Jawa Timur melalui kabel bawah laut. Untuk mengurangi ketergantungan itu, Koster telah mendorong percepatan pemasangan PLTS Atap di gedung pemerintahan, komersial, hotel, dan industri. Selain itu, ia juga mendorong pembangunan Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk mengatasi krisis sampah sekaligus menambah bauran EBT.

Kini, Koster bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Institut Teknologi Bandung (ITB) tengah mengkaji pemanfaatan EBT laut melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) di Selat Nusa Penida. Prof. Dwi Susanto dari Maryland University, yang terlibat dalam kajian tersebut, menyebut potensi energi arus laut di tiga selat sekitar Nusa Penida mencapai 376,8 MW — lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik di kawasan itu secara mandiri.

Koster menyambut baik kajian tersebut. “Saya sudah menangkap idenya dan ini memang sangat kita perlukan. Ternyata kita memiliki potensi besar, ini harus kita manfaatkan sebagai sumber penghidupan masyarakat Bali,” ujarnya.

Dirjen Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kartika Listriana, mengapresiasi langkah Pemprov Bali. Ia berharap EBT laut bisa diterapkan di Bali dan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.